Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 15 "Ketika Alan cemburu"

Obrolan mereka terhenti ketika hp milik Marie berdering. Ia merogoh tangannya ke dalam Tas, hendak mengambil gawainya. Namun aksinya itu terhenti ketika melihat kalau sang suami yang melakukan panggilan itu.  "Mar, sebaiknya di jawab jika itu telpon dari suamimu, mungkin dia khawatir tentang kamu, soalnya ini sudah mau hampir  jam 10.00 !" Seru Stephen memberikan saran. "Hehe" Marie tertawa sinis sambil meneguk sebongkah es batu kristal ke dalam mulutnya.  "Khawatir ?" "Ia Mar, Khwatir ! tadi kamu minta Izinkan, sebelum kesini ?" "Hehe, kamu lucu juga ya Step, kalau aku minta izin, tidak mungkin dia mau aku pergi sama lelaki lain selain dirinya. Selama aku menikah selama 10 Tahun, baru kali ini aku pergi dengan lelaki lain selain suamiku." "Oh ya ? kalau begitu pulang sekarang, aku antar kamu.  "Tidak usa Step, aku bisa pulang sendiri." Ia kemudian ke meja kasir untuk membayar tagihan, tetapi ternyata sudah dibayarkan ole...

Chapter 14 "Makan Bakso"

"Hah,,? Nanda,,?"  Marie diam sejenak, tak lagi melanjutkan langkah kakinya. Ia memerintahkan memorinya untuk mengingat nama itu. Tak menoleh ia ke arah sekumpulan ibu-ibu itu, kemudian perlahan melangkah pergi, menuju parkiran mobilnya.  no Sesampainya disana ada mobil lain parkir tepat bersebelahan dengan mobilnya, ia tak begitu menghiraukan. Ketika hendak membuka pintu mobilnya, terdengar dari dalam mobil lain itu, suara seseorang yang tidak asing lagi memanggil namanya. "Mar"  Marie kemudian menoleh. Terlihat seseorang yang hanya membuka sedikit kaca mobil, yang terlihat hanya jidat serta matanya. Sementara Marie masih ragu untuk mendekat. "Mar, ini saya." Secara perlahan menurunkan kaca mobil. "Stephen,,? Kam,,," "Sttttt" Belum selesai bicara stephen sudah memotong kalimatnya, sembari menempelkan telunjuk di bibirnya, berharap agar Marie mengerti apa yang dia maksudkan. "Pelankan suara mu Mar." cetus orang itu. "Iya ...

Chapter 13 "menelusuri jejak Alan"

Keesokan harinya Marie dibangunkan dengan gedoran pintu dari anak buahnya. "Tok,, tok,,bu,,ibu,,ini Hana bu,,"  Hana terus menggedor pintu karena mereka menunggu sedari tadi jam 7.30 sampe mau hampir jam 10.00 belum ada yang buka juga.  Hana kemudian ke pintu depan untuk membunyikan bel, sementara temannya mengetuk pintu samping. Gabungan suara itu seketika membangunkan Marie. Ia langsung beranjak dari ranjangnya kemudian segera membukakan pintu samping.  "Krek" pintu pun di buka. "Assalamu’alaikum bu" Sapa mereka bersamaan sambil berjalan menuju dapur produksi. "Wa’alaikum Salam" Balas Marie. "Maaf ya semuanya, Ibu bangun telat karena tidak enak badan, semalaman tidak bisa tidur" Marie mulai memberika alasan. "Iya bu, tidak apa-apa.", jawab mereka. "Oya Han, orderan tidak begitu banyak ya hari ini, jadi kalian bisa hendle kan ? soalnya ibu ada keperluan mendadak. "Iya bu, gampang bu, kami bisa tangani." Jawab H...

Chapter 12 "Diamnya Marie"

Sesampainya di rumah, Hana langsung menuju dapur, sedangkan Marie segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu tidak lupa juga ia bersersh diri pada Sang Khalik. Sambil berderai air mata, Ia memohon agar diberi kekuatan untuk menghadapi beratnya cobaan itu yang kadang tak mampu ia pikul.   Ia kemudian merebahkan tubuh penatnya di sofa yang ada di ruangan kantor miliknya. Sengaja ia tidak mau berbaring di kamar milik ia dan suaminya, karena disitu terpampang foto pernikahan mereka yang berukuran lumayan besar.  Perih di hatinya ketika melihat foto yang penuh dengan kenangan indah  itu yang dihadapkan  dengan  kenyataan yang sekarang sedang terjadi. Ia kemudian mengambil gawainya dan segera mengirim pesan ke Hana.  "Han, sebelum pulang, tolong pastikan semua paralatan dalam keadaan aman, Oya jagn lupa nasinya di bagi-bagi juga ya. hehehe." Tak lama kemudian Hana pun membalas. "Siap bu, terimakasih bu." Tak memberi balasan lagi, Marie lang...

Chapter 11 "Pengkhianatan ke 2"

Gambar
"Deg,," berdebar jantung Marie. Entah kenapa ketika membaca nama kontak itu terasa sedikit nyilu di hati, raut wajanya berubah seketika. Ia langsung bergegas membereskan bekas makan mereka.  Sementara Stephen sudah menangkap arti dari bahasa tubuh tamunya itu, ia segera meraih gawainya. "Entar ya Mar, saya mau terima telpon"   "Oh iya tidak apa-apa" Jawab Marie. Stephen kemudian menjauh dari Marie dan masuk ke privat room yang berada di dalam ruangan itu juga. Sementara Marie masih terlihat sibuk membereskan piring kotor dan merapihkan meja. Tak enak hati jika ia meninggalkan ruangan itu dengan keadaan yang tidak rapih. Walaupun ada orang yang bertugas khusus untuk itu, tapi dia harus tetap melakukannya, karena itu sudah menjadi kebiasaanya ketika bertamu di tempat orang. "Arraagghhh,,,Praakkkk,,," suara teriakan disertai dengan suara ambrukan kaca yang berasal dari privat room itu. Marie berhenti seketika. Sunyi sesaat tak terdengar suara apapun...

Chapter 10 "Pertemuan Marie dan Stephen"

Setelah selesai menelpon, tak disadari Waktu sudah menunjukan pukul 13.00. Jamnya makan siang sudah lewat bagi Marie. Akhirnya dia memutuskan untuk makan siang di luar sekalian mengantarkan pesanan Stephen.  Ia kemudian ke dapur produksi untuk memastikan pesanan itu sudah ready apa belum. "Hi Han, apakah sudah ready pesanan Pak Stephen ?" Tanya Marie. "Iya bu" Jawab Hana. Mata Hana langsung melirik ke Desy. Biasanya hal semacam itu, Marie lebih percayakan ke Desy, Jadi Marie tinggal terima beres. Tapi belakangan ini dia lebih sering berkomunikasi dengan Hana.  Desy pun kelihatan tidak  terusik. Dia terus melanjutkan kerjaanya. "Ayo Han, kalau sudah ready kita antarkan sekarang. Sudah tau kan alamat kantornya pak Stephen ?" "Ehhm..belum bu saya lupa ew tadi nanya" "Ok tidak apa-apa, ada di kartu namanya."  Marie segera merapikan dirinya. Sementara Hana masih penasaran dengan sikap bosnya itu. Ia kemudian mendekati Desy. "Mba Des,,ma...

Chapter 9 "Nomor Baru"

"Bye bunda" Alan kemudian melambaikan tangan ke isterinya sebelum berangkat ke kantor. "Bye juga Ayah" Marie membalas dengan memberikan senyuman terbaiknya. Mobil kemudian melaju menjauh dan hilang dari pandangan Marie. Ia kemudian masuk dan melanjutkan kerjaan yang kemarin sempat tertunda. Sementara ia melakukanya, memorinya membawa ia untuk mengingat lagi apa yang dikatakan suaminya kemarin saat lagi makan bakso.  "Stephen ? nelpon saya ? kenapa bisa ?" Marie merasa bingung, bagaimana bisa Stephen menghubungi dirinya duluan sedangkan, dia juga belum mulai komunikasi dengan Stephen. "Dariana dia dapat nomor saya ?" Pertanyaan-pertanyan itu, terus muncul dibenaknya yang membuat dia gusar dan tidak fokus untuk bekerja. Ia kemudian mengambil lagi kartu nama Stepen yang ia sembunyikan di berkas resep masakan. "Stephen wijaksono Trainer of investment" "Company Name; Widjaja Real Estate,  Email address, Phone number, Company address, Co...

Chapter 8 "Gunjingan Tetangga"

"Sembunyikan sesuatu dari kamu ? maksud kamu apa Alan ?" Marie segera turun dari mobil, kemudian menutup pintu mobil itu dengan sangat keras.   "Bu..bun..tunggu bun." Alan juga ikutan turun dan berusaha meraih tangan Marie tetapi Marie malah menepisnya dan mengekori Marie masuk ke dalam rumah. Alan kemudian mangambil tempat duduk di sofa sedangkan Marie langsung menuju ke ruang kerjanya. Karena melihat Marie tak mau ikutan duduk bersamanya, Alan juga akhirnya ikutan masuk ke dalam ruang kerja itu. "Ayo jelaskan perkataan mu tadi" Tanya Marie dengan penuh amarah. "Bun..tolong tenang bun..." Alan bangkit dari duduknya mencoba menenangkan Marie yang sedari tadi berdiri di hadapan Alan. "Tenang ? kamu bilang tenang ? setelah telingaku memanas dan hatiku perih mendengarkan cacian itu ?" Suara Marie mulai mengisak dan meninggi, membuat karyawan di dapur yang tadinya kedengaran suaranya kini sudai mulai sunyi sepih.  "Bun...Ayah minta maa...

Chapter 7 "Tak Seindah Dulu"

Pagi itu Marie dan Alan bersiap untuk menemui dokter kandungan, entah berapa puluh kali sudah bolak balik ke dokter, tetapi hasilnya selalu nihil.  Namun, tak ada kata menyerah bagi wanita tangguh itu. Berbanding terbalik dengan sang suami. Dia seolah punya pemikiran bahwa, tidak memiliki keturunan merupakan hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Toh, itu rahasia Ilahi, tetapi itu hanya ketika ia bersama Marie. Namun disaat dia bersama yang lain justru dia yang paling mendambakan memiliki keturunan. "Ayah kita pake mobil ayah aja ya ?" Tanya Marie. "Iya, mobil mana saja boleh, intinya sampe tujuan dengan selamat." Jawab Alan dengan ekspresi wajah datar. Marie hanya diam mendengar jawaban itu. "Oh iya, setelah dari klinik, bunda pengen makan bakso di tempat biasa, boleh ya ? pinta Marie setengah memohon. "Iya boleh, tapi jangan lama, soalnya ayah mau ke kantor lagi." "Ok. Bunda janji tidak akan lama." Mobil pun melaju hingga tiba di sebuah kli...

Chapter 6 ''Rasa Itu"

"Tolong hentikan sikap kamu yang tadi ya, jika kamu ulangi lagi kamu akan tau akibatnya, kalau bukan saya pikir tentang anak kamu, sudah saya pecat kamu hari ini juga, oya kamu ngakunya janda, dan sejauh yang saya kenal, kamu singgle parent kan ?" Pesan singkat itu kemudian dikirim Marie. Dia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Desi melakukan hal yang memalukan itu. Harga dirinya Sebagai seorang wanita dan terutama sebagai Bos telah diinjak oleh Desy. Marie melihat pesan itu lagi, belum centang biru. Tetapi ada status WA Desy muncul. Ingin hati Marie untuk tidak membuka, tetapi sepertinya ada tulisan "Papa."  Akhirnya Marie menepis rasa gengsinya. Ia kemudian melihat status itu yang isinya, "Nolak, tapi kepengen" dengan dikasih satu biji emot tertawa. "Makasih papah. Bunda  senang banget hari ini. Pulang kerja sudah ada makanan kesukaan bunda diatas meja."  Jadi emosi Marie setelah baca itu.  "Huuft...Pesan kita tidak direspon tapi...

Chapter 5 Peringatan untuk Desy

Pagi ini, Marie benar-benar menahan amarah, karena situasi dan kondisnya tidak mungkin untuk meluapkan. Bagaimana tidak,   Orderan banyak, Waktu hampir tengah hari, Desy tak kunjung tiba juga. Sementara, sudah 2 minggu ini, pemasukan harian tidak dia setor ke bank. Selama ini Marie diam akan hal itu, dia tidak begitu mempermasalahkan. Tetapi, semakin didiamkan semakin sengsara kita dibuatnya. "Han, kalau setelah makan siang dan semua orderan sudah selesai di produksi, kalian istirahat saja. Kasihan kalian, kelihatan sudah sangat capek. Oya nanti ada calon karyawan baru 2 orang, nanti langsung disuruh masuk saja ya." "Ok bu, siap laksanakan !" Jawab Hana tegas sambil mengulenin adonan. "Terimakasih Han" "Sama-sam bu" Marie segera kembali ke ruangan kantornya, hendak melanjutkan membaca buku yang beberapa hari lalu dibeli dari gramedia. "Tok...tok..." pintu diketuk. "Iya Han, langsung masuk aja" Kata Marie. "Maaf bu, ini de...

Chapter 4 Mengumpulkan Bukti

Seminggu telah berlalu setelah kejadian menyakitkan itu. Marie berusaha mengembalikan suasan seperti semula, melupakan seolah tidak terjadi apa-apa.  "Bun, hari ini hari senin, jadi seperti biasa, full time saya di kantor sampe jam 12.00, selebihnya saya ada jam ngajar sampe malam. Entar malam kalau bunda lapar, makan saja, jangan tunggu saya." "Ok sayang" Jawab marie singkat sambil membantu merapikan setelan suaminya. "Oya, saya makan siang dikantor,. So, tidak perlu bawa bekal"  "Ok. Saya juga tidak sempat buatkan bekal kamu yah." Jawab marie memelas. "Tidak apa-apa bun. Aduh sudah telat ni, ayah harus segera pergi, cup,cup" Alan kemudian memberikan kecupqn tepat di kening istrinya, kemudian langsung pergi. Seketika mobil yang dikendarai Alan melaju dengan cepat. Marie kemudian menuju ke ruang kerjanya yang berada tepat di samping kamar tidurnya.  "Maaf Alan, karena kamu mulai tidak jujur dengan saya, maka saya akan melakukan den...