"Tolong hentikan sikap kamu yang tadi ya, jika kamu ulangi lagi kamu akan tau akibatnya, kalau bukan saya pikir tentang anak kamu, sudah saya pecat kamu hari ini juga, oya kamu ngakunya janda, dan sejauh yang saya kenal, kamu singgle parent kan ?"
Pesan singkat itu kemudian dikirim Marie. Dia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Desi melakukan hal yang memalukan itu.
Harga dirinya Sebagai seorang wanita dan terutama sebagai Bos telah diinjak oleh Desy. Marie melihat pesan itu lagi, belum centang biru. Tetapi ada status WA Desy muncul. Ingin hati Marie untuk tidak membuka, tetapi sepertinya ada tulisan "Papa."
Akhirnya Marie menepis rasa gengsinya. Ia kemudian melihat status itu yang isinya,
"Nolak, tapi kepengen" dengan dikasih satu biji emot tertawa.
"Makasih papah. Bunda
senang banget hari ini. Pulang kerja sudah ada makanan kesukaan bunda diatas meja."
Jadi emosi Marie setelah baca itu.
"Huuft...Pesan kita tidak direspon tapi malah bikin status."
Marie kemudian meletakan handphone diatas meja kerja dan merebahkan tubuh di sofa, Bayang-bayang kejadian siang tadi masih melekat diingatannya, Secara manusiawi Marie tidak melupakan begitu saja.
Sambil menunggu suaminya pulang kerja, Ia mengisi waktu luangnya dengan membaca buku. Ya, membaca adalah salah satu kegemarannya, selain menulis, membuat kue dan bermain musik. Menurutnya, banyak manfaat yang diperoleh ketika mambaca buku. Terutama buku non fiksi.
Bisa menambah wawasan, merubah pola pikir, meningkatkan imajinasi, dan terutama bagi Marie adalah menghilangkan stres.
Ketika lagi asik membaca, terdengar seperti bunyi pesan masuk, akhirnya ia beranjak dari duduknya kemudian memeriksa gawainya.
"Katamu, saya tidak seharusnya mencampuri urusan rumah tangga kamu, tapi kamu malah tanya tentang suamiku, ada apa gerangan ? hehe." Pesan masuk dari Desy.
"Menurut saya, wajar saja kalau saya harus mengetahui latar belakang semua karyawan saya."
" Jangan berdalih begitu. Saya yakin kamu bukan tipe orang yang suka bertanya, kalau itu bukan mengenai urusan mu. Kita sudah saling mengenal bahkan pernah bersama, dan kamu masih mau ingin tau tentang suamiku ? kenapa ? urus saja dulu suamimu yang benar, baru bertanya !"
"Des, yang terjadi diantara kita sudah menjadi masa lalu. Saya punya masa depan, begitu juga dengan dirimu. Kamu punya anak dan sampai saat ini saya tidak tau siapa ayah dari anak itu, karena memang kamu tidak mau memberitahuku setiap kali aku tanya. Ah, tapi sudalah Des, lupakan saja. Percuma jelaskan, tidak nyangkut juga ke otak mu. Selamat malam." Marie menutup pesan itu. Ia kemudian beralih ke daftar kontak untuk menghubungi suaminya.
"Halo Yah"
"Iya hallo juga Bun"
"Masih lama pulangnya ?"
"Ehm...Be...ben..bentar lagi bund..ahh." Terdengar suara gagap berdesah dari seberang telpon.
"Loh, ayah kenapa, sekarang ayah lagi di kampus kan ?" Tanya Marie khawatir.
"iya dikampus bun, setengah jam lagi sudah mau balik juga kok."
"Iya Yah, jangan sampe larut. Besok kita ada janji temu dokter"
"Iya bun, daa"
"Iya Yah, daa juga" Marie akhirnya menutup telpon. Bergegas Ia, lalu memeriksa GPS yang terpasang di mobil, yang sebelumnya tanpa sepengetahuan suaminya.
"Hem, kena kau Alan. Katanya lagi ngajar, kampusnya di utara, mobilnya di selatan."
Ia lalu mendokumentasikan bukti yang kesekian itu. Tak mau berlama-lama memikirkan kelakuam Alan, Ia beranjak untuk tidur. Selagi tidur pikirannya masih terjebak dengan rasa yang diberikan oleh Desy siang tadi. Ingin untuk mencapai puncaknya.
Ah, sudah lama Marie tak merasakan itu, Ia hanya memberikan kenikmatan untuk suaminya tetapi tidak sebaliknya.
Kemudian Ia mencoba menggauli dirinya, memenuhi dahaga klimaks yang jarang ia dapatkan. Tetapi belum beberapa lama, suara deruan mobil membuyarkan hayalnya. Alan datang di waktu yang tidak tepat. Ia ingin meneruskan dan kemudian mengatakan kepada Alan bahwa, dia kelamaan buka pintu karena ketiduran. Tapi ah sudalah, mana bisa menikmati sementara handphone terus berdering, dan bell berbunyi riang ?
Ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan segera membukakan pintu untuk suaminya.
"Hai bun"
"Hai juga Yah"
"Cup,," Kemudia Alan memberikan kecupan dikening Istrinya.
"Oh sayang, tidak mungkin kamu dari kampus dengan bau nafas seperti ini" Batin Marie, dan terus bersikap seperti biasa. Ia kemudian membereskan bawaan suaminya.
Kemudian menyuruhnya untuk segera membersihkan diri.
Sementara ia bersiap-bersiap menunggu di dalam kamar.
Beberapa menit kemudian suaminya selesai mandi dan masuk ke dalam kamar. Ia mendapatkan Marie dengan tak sehelai benang pun.
"Ayah,,bolehkah malam ini ? Marie mengutarakan keinginannya.
"Aduh sayang, sepertinya subuh dulu baru bisa, saya terlalu capek malam ini" jawab Alan sambil memakai piyama dan bergegas untuk tidur. Dia samasekali tak mengindahkan hasrat istrinya. Alan lalu meletakan kepala di bantal dan seketika langsung terdengar dengkuran.
Untuk memastikannya, Marie menggelitiki perutnya tetapi tak ada respon apapun. Ketika yakin suaminya sudah benar-benar tidur, Marie melanjutkan aksinya.
"Aghh...ini benar-benar saya nikmati, jika kau tak membahagiakan aku, biarlah aku dengan caraku sendiri, dari pada aku harus membuang waktu percuma hanya untuk memikirkan kelakuan mu yang selalu menyakitkan aku, setidaknya aku tak berpaling dari dirimu." Marie terus menikmati hasrat yang bergelora itu.
"Ting" tiba-tiba bunyi pesan masuk, ia sekedar melirik gawainya, tak memperdulikan. Tetapi sepertinya itu dari Desy. Ia melepaskan tangan, kemudian segerah meraih handphone.
Benar dugaan, itu dari Desy.
"Saya tau, kamu tidak sendirian, tetapi kamu butuh saya sekarang. Itu semua kembali ke kamu, mau atau tidak. Sudah ku bilang, aku lebih tau tentang siapa dirimu. Jika kamu susah melakukan, cukup ingat hangatnya kecupan itu serta deruh jantungku. Percayalah !! itu lebih membantumu mencapainya, ketimbang pecundang yang tidur disamping mu. Aku tau kamu sebelum dia mengenal dirimu"
"Pergilah ke neraka" Balas Marie dengan mengirim pesan suara dan langsung mematikan handphone..
Kemudian ia melanjutkan aksinya yang tertunda ke 3 kalinya.
"Ahh..susahnya harus memulai lagi dari awal." Ia mengeluh dalam hati.
Tetapi pesan Desy terbayang dibenaknya, dan tak salah lagi, hasrat itu muncul seketika. Ia menikmati hingga puncak pun dia gapai. Rasa legah dan lelah menyelimuti tubuhnya, hingga terlelap dalam nikmat sesaat.
Bersambung....
Komentar