Sesampainya di rumah, Hana langsung menuju dapur, sedangkan Marie segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu tidak lupa juga ia bersersh diri pada Sang Khalik. Sambil berderai air mata, Ia memohon agar diberi kekuatan untuk menghadapi beratnya cobaan itu yang kadang tak mampu ia pikul.
Ia kemudian merebahkan tubuh penatnya di sofa yang ada di ruangan kantor miliknya. Sengaja ia tidak mau berbaring di kamar milik ia dan suaminya, karena disitu terpampang foto pernikahan mereka yang berukuran lumayan besar.
Perih di hatinya ketika melihat foto yang penuh dengan kenangan indah itu yang dihadapkan dengan kenyataan yang sekarang sedang terjadi. Ia kemudian mengambil gawainya dan segera mengirim pesan ke Hana.
"Han, sebelum pulang, tolong pastikan semua paralatan dalam keadaan aman, Oya jagn lupa nasinya di bagi-bagi juga ya. hehehe."
Tak lama kemudian Hana pun membalas.
"Siap bu, terimakasih bu."
Tak memberi balasan lagi, Marie langsung menonaktifkn hp nya, kemudian lanjut berbarig agi.
Sepertinya kali ini Mujizat sedang terjadi dalam dirinya. Ia merasa lebih tenang. Memang betul kata orang, kalau kita berdoa dengan khusuk ketika menghadapi suatu masalah, maka doa itu akan cepat terjawab oleh Tuhan.
Akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
"Kring...krig.." suara telpon berdering, membangun Marie dari tidur pulasnya. Ia malas mau mengangkatnya, tetapi jika itu tidak di ladeni maka akan benar- benar mengusik ketenangan jiwanya. Ia kemudian segera bangun dari sofa. Matanya kemudian melirik ke arah jam yang melekat di dinding itu, yang sudah menunjukan pukul 09.00 malam.
"Hah ? 9 malam " kaget Marie karena dia tidur selama 4 jam. Cukup lama juga. Ia kemudian keluar menuju ruang tamu untuk menjawab panggilan telpon yang sedari tadi terus berdering.
"hallo" sapa Marie.
"Aktifkan hp kamu sekarang juga" jawab orang di seberang telpon.
"Stephen ?"
"Jangan banyak tanya. tut.tut.tut." akhirnya telpon itu juga dimatikannya.
Marie akhirnya menuruti keinginan Stephen. Ia segeran masuk ke ruangannya dan mengaktifkan hpnya.
"Ting.ting.ting." banyak pesan serta panggilan yang tidak terjawab.
Ia kemudian bergulir pesannya dan ternyata ada satu pesan dari nama kontak yang bertuliskan My husban, yang isinya,
"Bunda, ayah pulang larut, bahkan bisa subuh karena, setelah dari kampus ayah harus lanjut lembur di kantor. Bunda jangan lupa makan ya."
Pesan itu mungkin dikirim sekitar satu jam yang lalu. Marie hanya membaca namun tidak membalas. Selebihnya pesan dan telpon itu berasal dari Stephen.
Sambil menunggu telpon dari stephen, ia kemudian berpindah ke lembaran status.
Ada satu status yang mengusik perhatiannya, yaitu dari Desy.
"Anda diam ? saya lebih diam lagi, saya rasa sudah cukup selama ini saya memahami dirimu."
Kemudian di lembaran yang ke dua.
"Lanjut kerja ah, bareng ayah, kali ini ayah yang nemanin."
Marie langsung menscreenshot status itu.
"Kring,,kring" panggilan telpon dari Stephen.
Marie segera menjawab telpon itu.
"Hallo Step." Sapa Marie.
"Hem,,kenapa gak aktif si dari tadi."
" Lagi istirahat, jadi gak pengen di ganggu."
"Oh, kalau sekarang sudah bisa dinganggu ?"
Marie terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. Stephen kemudian bertanya lagi.
"Kalau saya ganggu boleh ?"
"Gak bisa juga stephen, kamu itu maunya apa ?, tadi katanya aku ke kantor kamu, buat bahasa masalah bisnis, aku kesana, tapi kamu malah curhat."
"Ok Mar" Stephen memotong pembicaraan Marie.
"Tolong dengarkan saya Mar. Saya benar-benar minta maaf mengenai masalah tadi. saya loss kontrol. Emm,,Jika kamu berkenan, saya mau ngajak dinner bareng kamu, sebagai bentuk minta maaf saya. Tapi tidak apa-apa kalau kamu gak mau. cukup bilang tidak."
"Maaf Step, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, nanti kalau saya sempat, saya hubungi kamu."
Tiba-tiba ada telpon masuk dari Alan, Marie kemudian meminta ijin untuk mengakhiri telpon dengan Stephen. Telpon pun berakhir. Tetapi belum ingin untuk menanggapi telpon dari suaminya.
"Kring,,kring" suara bel rumah berbunyi. Marie kemudian mengecek di layar monitor CCTV. Ternyata Alan sudah pulang. Pintu pun diketuk beberapa kali. Namun malas hati marie membuka pintu.
" Bun,,bunda" terdengar suara Alan yang sambil melambaikan tangan di depan CCTV.
Tak tega Marie melihatnya. Ia pun segera membuka pintu.
"Hai Bunda,,ko lama banget buka pintunya."
Sambil memberikan sebuah kecupan seperti biasa.
Marie, kemudian mengelak, menghindari, karena tercium seperti aroma alkohol. Marie tak juga ingin caritau lebih. Ia kemudian langsung masuk ke dalam kamar tak memperdulikan suaminya. Alan menyadari sikap isterinya, Ia kemudian menyusul isterinya ke dalam kamar.
"Bunda kenapa ? sakit ?" sambil tangannya merabah di kening isterinya.
"Udah, tidak apa-apa kok" Jawab Marie ketus, sambil menarik selimut menutupi tubuhnya kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Sementara Alan masih duduk di tepih ranjang tepat di kepala Marie.
"Ayah tadi mau lembur, tapi, diajak teman ke acaran ulang tahunnya,,,"
"Ok,," Belum selesai bicara Marie langsung memotong pembicaraan Alan.
"Kamu kenapa si bun, suami pulang kerja bukannya disambut malah diginiin. Capek saya cari nafkah di luar sana" Alan mulai meninggikan suaranya.
"Terus kamu kira, selama ini saya hanya numpang makan sama kamu ? kamu nafkahin saya apa nafkahin perempuan lain diluar sana yang sudah hamil ?"
"Plakkk,,," satu tamparan mendarat di pipi kiri Marie.
"Cukup kamu ya, benar-benar sudah kelewatan."
"Kenapa Alan ? kena di hati ? atau sesuai kenyataan ? Ayo, silahkan tampar lagi, nih belum pipi kanan ku. Sakitnya Gak seberapa kok, paling entar lagi hilang, dan asal kamu tau ya, lebih sakit kebohongan kamu selama ini yang kamu tutup rapat dan pikir bahwa saya tidak tau tapi ternyata,, hehehe,,saya tau semuanya."
Marie segera keluar dari kamarnya, tapi Alan menghadiknya di depan pintu.
"Jangan kamu lari dari masalah ini, ayo kita selesaikan." tantang Alan.
"Tolong diingat baik-baik ya, masalah ini tidak akan ada penyelesaiannya kalau kamu masih tidak jujur sama diri sendiri dan juga saya istrimu."
"Mar, kalau kamu masih menuduh saya yang bukan-bukan saya akan segerah keluar dari rumah ini."
"Oh sungguh ? silahkan ! Kalau bisa secepatnya."
"Ok,,karena kamu sudah mengusir saya jadi sekarang juga saya pergi dari rumah ini."
"Iya hati-hati, Marie kemudian keluar menuju ruang kantornya. Sementara Alan mengikuti dari belakang, mencoba membujuk Marie, tapi Marie tak memperdulikannya. ia kemudian menutup pintu kantornya dan membiarkan Alan diluar. Tak lama kemudian terdengar suara Alan berbisik menerima telpon.
"Iya, ayah segera kesana."
Bersambung...
Komentar