Keesokan harinya Marie dibangunkan dengan gedoran pintu dari anak buahnya.
"Tok,, tok,,bu,,ibu,,ini Hana bu,,"
Hana terus menggedor pintu karena mereka menunggu sedari tadi jam 7.30 sampe mau hampir jam 10.00 belum ada yang buka juga.
Hana kemudian ke pintu depan untuk membunyikan bel, sementara temannya mengetuk pintu samping. Gabungan suara itu seketika membangunkan Marie. Ia langsung beranjak dari ranjangnya kemudian segera membukakan pintu samping.
"Krek" pintu pun di buka.
"Assalamu’alaikum bu" Sapa mereka bersamaan sambil berjalan menuju dapur produksi.
"Wa’alaikum Salam" Balas Marie.
"Maaf ya semuanya, Ibu bangun telat karena tidak enak badan, semalaman tidak bisa tidur" Marie mulai memberika alasan.
"Iya bu, tidak apa-apa.", jawab mereka.
"Oya Han, orderan tidak begitu banyak ya hari ini, jadi kalian bisa hendle kan ? soalnya ibu ada keperluan mendadak.
"Iya bu, gampang bu, kami bisa tangani." Jawab Hana selaku ketua sementara, pengganti Desy.
"Oya, Desy belum kelihatan dari tadi, belum datang juga ya ?" tanya Marie memastikan.
"Ehhm,, anu bu,,ehhm, mba desy sakit jadi tida bisa turun hari ini."
"Kamu tau dari mana Han ?"
"Pagi tadi dia nelpon kasitau ke saya bu"
"Oh, jadi bosnya sekarang kamu Han ? bukan saya lagi kah Han ?,,hehehe "
"Hehe bukan juga lah bu. Mungkin dia takut kali ngomong langsung ke ibu."
"Ya, terserah dia lah, mau kerja ya silahkan ! mau keluar juga lebih bagus." Marie kemudian berlalu meninggalkan mereka, dan kembali masuk ke kamarnya.
Memorinya mengingatkannya kembali dengan kejadian malam tadi. Perih di hati masih terasa. Ia kemudian melacak lagi keberadaan suaminya melalui Global Positioning System atau yang biasa di sebut dengan (GPS), yang ia pasang di mobil serta handphone milik suaminya.
Titik Navigasi itu menunjukan ke arah barat, kurang lebih 10 Km dari tempat tinggal Marie dengan waktu tempuh 30 Menit. Tidak terlalu jauh.
Akhirnya Ia pun memutuskan untuk mencari tau keberadaan lelakinya itu.
Marie langsung segerah membersihkan diri kemudian dengan sergap mengeluarkan mobil dari garasi, ia kemudian melajukan mobilnya. Di dalam perjalanan, bayangan suaminya bersama wanita lain yang ia lihat beberapa hari yang lalu masih tersirat di benaknya, yang membuat ia berteriak kecil sambil memukul-mukul setirnya mobil itu.
Ia sangat frustasi, tetapi ia berusaha tenang untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan dalam berlalu lintas.
Kurang lebih 30 menit sudah berlalu. Titik itu berhenti di sebuah gang sempit yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan beroda 4.
Ia kemudian memarkirkan mobilnya di samping gang tepat depan sebuah rumah yang kelihatan tidak berpenghuni. Ia kemudian berjalan kaki masuk gang menelusui setapak itu.
Disampingnya ada rumah kayu ulin yang berderetan panjang dan juga beberapa rumah beton. Sepertinya ia memasuki komplek kos-kosan atau kontrakan. Terlihat ada sekumpulan ibu-ibu bersenda gurau sambil memomong anaknya.
Marie melemparkan senyuman dan sedikit membungkukan badan ke arah mereka, ada beberapa yang membalas senyuman itu, Tetapi tak ada satu kata pun.
Marie terus berlalu.
Hingga dari kejauhan terlihat mobil putih yang tidak asing lagi, yang parkir di depan sebuah rumah permanent yang di cat Biru itu.
Ia kemudian mendekati untuk memastikan kalau mobil itu milik suaminya. Ternyata dugaannya benar. Terbukti dari nomor plat kendaraan yang melekat di belakang mobil itu. Dengan sirgap ia mengambi handphone kemudian dengan secepat kilat memotret keberadaan kendaraan itu sebelum dilihat oleh siapapun itu.
" Emba ?" Sapa seseorang dari belakang yang bahkan langkah kakinya tidak terdeteksi oleh Marie, yang kemudian mengagetkan Marie.
"Iya emba,,eh maaf bu" Jawab Marie sambil menoleh ke arah suara itu, kemudian cepat-cepat merogohkan kembali handphone ke dalam sakunya. Untung aksinya sudah berhasil.
"Maaf mau nyari siapa ya emba ?" Tanya ibu itu dengan sorotan matanya yang tajam, yang hampir membuat syok Marie.
"Ehm,,anu bu,,ehm,,saya mau nanya, ehm,, yang punya mobil ini, rumahnya yang mana ya bu ? Tanya balik Marie dengan sedikit gugup.
"Itu, depan mu !" Jawab ibu itu sambil menunjukan ke arah rumah tepat di depan Marie yang mungkin jaraknya hanya 7 langkah kaki dari tempat Marie berdiri.
"Emang mau nyari siapa ?" Tanya ibu itu lagi.
"Ehm,,jadi gini bu" Marie berusahan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan dari ibu itu. Karena sepertinya ibu itu mengira kalau Marie hendak maling.
"Boleh saya tau yang mengontrak ini siapa aja bu ?"
"Wah,,saya kurang tau berapa orang ! tapi yang pasti suami istri, "
"Deg," Jantung Marie berdegup kencang mendengar perkataan itu.
"Yang istrinya masih kuliah sedangkan suaminya kerja di kantoran. Tapi kadang juga saya lihat bertiga, tapi kurang tau yang satu itu siapa." Ibu itu coba menjelaskan lagi.
"Kira-kira ada orangnya ya bu ?"
"Oh,,orangnya sudah pergi. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu, sebelum emba nyampe sini.
" Tapi ko mobilnya masih disini bu ?" Tanya Marie memastikan.
"Mungkin pake mobil istrinya."
"Oh gitu, " lirih Marie, mendengarkan kalimat itu seakan membangkitkan kembali benih-benih amarah yang sudah lama tertanam.
"kalau mau, gini aja emba, saya minta nomor kontaknya emba, nanti kalau pulangan mereka, baru saya infokan."
"Entar,,maksud Ibu, mau infokan ke orang itu kalau saya datang ke tempat ini ?"
"Lah, bukan. Nanti saya hubungi embanya kalau mereka uda pada disni. Gimana mau cerita sama mereka, tegur kita aja susah..Hehe." Celetuk ibu itu yang sedari tadi dengan Marie bersandar di mobil itu.
"Tapi, boleh saya minta 1 hal bu ?" Tukas Marie sambil menuliskan nomornya di secarik kertas.
"Iya apa itu emba," tanya ibu itu penasaran.
"Saya mohon bu, tolong rahasiakan kedatangan saya ini dari orang itu, jika ibu bisa melakukan hal ini, saya akan berikan imbalan kepada ibu sesuai dengan kemampuan saya. Boleh gak bu ?"
"Ya boleh lah, itu mah gampang hehe."
Jawab ibu itu sambil mengulurkan tangannya mengambil kertas yang sedari tadi masih di genggaman Marie. Mendengar kata imbalan, ibu itu menjawab sambil memasang senyum sumringah.
"Percaya aja sama ibu. Tetapi sebenarnya emba ini maunya apa si ? Kelihatan seperti para intel mau nangkap gembong N*****ba aja. Oya, yuk kita ke rumah ibu dulu." Ibu itu mencoba memberikan tawaran.
"Terimakasih banyak bu, tetapi maaf tidak bisa karena ada teman yang menunggu." Marie mencoba memberikan alasan.
"Nanti ibu akan tau kebenaran, kalau sudah datang waktunya." Jawab Marie sambil membetulkan posisinya bersiap hendak pergi.
"Maaf bu, saya tidak bisa berlama-lama disini, soalnya masih ada urusan seperti yang sudah saya katakan. Terimakasih banyak bu ya atas informasinya. Semoga ibu bisa merahasiakan percakapan kita sebelumnya dan jangan lupa untuk menghubungi saya ya bu..hehe."
"Oh, iya aman, percaya aja sama ibu."
Mereka kemudian berpamitan, dan Marie secara perlahan meninggalkan tempat itu, sesekali ia menoleh ke arah mobil itu, biasanya parkir di garasi rumahnya, tetapi kali ini bersanding di depan rumah asing.
Betapa sakit yang ia rasakan,Matanya mulai berkaca, hendak menahan tangis, tetapi mungkin karena sudah terlalu berat bulir-bulir bening itu menggantung di pelupuk matanya, Jatuh seketika. Secepatnya ia menyeka, tak mau di tertawakan oleh sekumpulan ibu-ibu yang sedari tadi masih berdiam pada tempat yang sama. Marie berlalu terus tanpa berkata apapun, hanya sekali terdengar suara seseorang dari mereka yang mungkin menanyakan maksud kedatangan dirinya.
" Oh,,tamune Nanda ?"
Kalimat itu seketika langsung menghentikan langkah Marie.
Bersambung...
Komentar