Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"
Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.
Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana.
"Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie.
"Tamu penting ?"
Batin Hana, ia kebingungan.
"Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran.
"Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"
"iya bu"
Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.
"Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu.
"Hi, kamu emba Hana kan ?"
Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan dengan hana.
"Ehm...iya...iya...emba..eh, maaf Bu"
jawab hana gelagapan.
Ia lalu membantu Alan memasukan barang bawaan ke dalam rumah. Setelah itu, ia langsung kembali bergelut dengan kerjaanya di dapur, karena tidak mau terlibat dalam urusan rumah tangga bosnya.
Sementara itu, di ruangan lain, Marie masih memonitor gerak gerik dua sejoli itu.
Perempuan yang memakai baju terusan berwarna kuning muda terlihat duduk santai di sofa sambil sibuk dengan gawainya, sementara Alan berjalan menuju ke kamar.
"Bund"
Suara Alan memanggil.
"Bun...Bunda..."
Panggilan yang sama tetapi belum di respon juga sama istrinya.
Alan kemudian menghampiri ruangan kantor Marie.
"Bunda...Ayah perlu bicara sama Bunda. Tolong bukakan pintu."
Suara pelan Alan setengah memohon.
Mendengar suara lembut suaminya, Marie tak tega, seburuk apapun kelakuanya, itu tetap suaminya.
Memutuskan untuk berbicara baik dengan Alan dan wanita itu, merupakan keputusan yang harus ia ambil untuk saat genting itu.
"krek"
gagang pintu diputar, kemudian keluar menemui Alan.
"Hi,"
Sapa Marie dengan ekspresi wajah yang tenang, seolah tidak terjadi apa-apa dalam rumah tangganya.
"Hi bun"
jawab Alan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, sepertinya ia tidak mampu berlama-lama menatap soroton mata wanita yang ada di dapannya.
"Kenapa Yah, kok seperti orang linglung ?"
tanya Marie seolah tidak mengerti sesuatu.
"Ehm, gini bun..emm"
Alan belum bisa melanjutkan kata-katanya.
"Kenapaa ?"
Tanya Marie dengan nada suara datar.
"Oh, ada tamu di sofa itu ya" lanjut Marie.
"Iya Bun..." jawab Alan singkat.
"hushh" Marie menarik napas panjang.
"Ya uda, langsung aja masukkan barangnya ke kamar, baru kita ngobrol disini."
Tak banyak bicara lagi, perintah Marie seolah menyihir Alan, dengan sergap ia melakukannya.
Melihat Alan yang sendirian menggotong bawaan, Wanita muda itu lalu bangkit dari duduknya lalu segera membantu Alan, tanpa mengucapkan sepata katapun pada Marie.
Marie tetap tenang dengan tingkah perempuan manis itu.
"Oya bund, kunci kamarnya dimana ya ?"
Tanya Alan yang berusaha membuka pintu kamar tapi sepertinya sudah terkunci.
"Barang yang boleh masuk ke kamar adalah barangnya Alan, kalau ada. Selebihnya tidak ada izin masuk !"
Perintah Marie yang membuat Alan seketika mengangkat wajahnya kemudian memandang Marie dengan ekspresi beribu arti.
" Maaf emba Mar, saya Denanda"
sapa wanita itu sambil menyodorkan tangannya ke Marie.
"Tidak perlu, saya sudah tau kamu."
Marie menepis tangan yang kukunya di cat dengan warna baby pink.
"Alan"
sebutan itu mengagetkan Alan dari diamnya.
Marie mulai melipatkan kedua tangannya di dada.
"Ajak ibu dari calon anak mu, masuk ke ruanganan ku sekarang !."
Lanjut marie yang sedari tadi berdiri di depan pintu kantornya yang kemudian masuk kembali ke ruangannya lalu disusul oleh Alan dan Denanda.
"Silahkan dicicipi"
Marie menyodorkan dua botol air mineral dan beberapa toples kue kering.
"Well, hesshh...kita langsung aja ya"
sambung Marie lalu menghela napas panjang.
"So, Alan...kamu yang pertama saya tanya.
Hari ini, kamu ke tempat kerja atau ke rumah perempuan ini ?"
"Ke rumah Desy...eh maksud saya Nanda bun."
jawab Alan sambil memasukan beberapa biji kue nastar ke mulutnya.
"Ok, karena kamu sudah berkata jujur maka I appreciate your honesty no matter kamu kerja atau tidak, toh resikonya nanti kamu yang nanggung."
"Terimaksih bun"
jawab Alan dengan santai yang membuat Marie sempat memelototinya beberapa detik.
"Terus apa rencana kamu tentang hubungan ini ?"
Masih Marie yang mendominasi pembicaraan.
"Mau tinggal disini tante...eehh..maaf emba.."
jawab spontan wanita muda itu.
"Maaf ya, kamu belum di beri waktu untuk bicara, ada saatnya kamu akan bicara !"
tegas Marie dengan suara agak tinggi ke perempuan itu yang membuat dia seketika diam membisu.
"Ya mau gimana lagi bun, yang dia kandung itu anak ku, jadi aku harus bertanggung jawab, masa kamu mau aku jadi lelaki pecundang."
Alan tak kalah tegas juga dari Marie.
"Memang sejak awal kamu sudah jadi pria pecundang. Oya, Sejak kapan kamu kasitau ke saya kalau kalian akan pindah ke sini ? bukannya kamu pagi tadi berangkat kerja, tapi pulangnya malah bawa wanita berbadan dua." celoteh Marie lagi.
"Dari pada saya bersandiwara di belakang kamu, mending saya bawa kesini, biar semuanya jelas. Lagian dia tidak punya tempat tinggal lagi semenjak.....arghhh."
Alan mulai teriak dan memukul kepalanya.
"Semenjak apa ? Hem ?"
Marie mengangkat dahinya memastikan jawaban dari suaminya yang sudah mulai gusar, tetapi alan tidak berani untuk lanjut berbicara.
"Ok..Karena calon suami mu ini tidak mau bicara lagi, sekarang giliran kamu."
Marie mengalihkan pandangan ke wanita duduk disamping Alan.
"Apakah sebelumnya kamu tau kalau kamu menjalin hubungan dengan pria beristri ?"
"Tau tante...eh maaf emba"
"Tante ? apakah saya terlihat sangat tua di matamu ?
"Gak emba"
"Lupakah saja. Oya, kamu belum jawab pertanyaan saya, kenpa kamu mau dengan pria beristri ? kalau masalahnya karena uang pasti tidak mungkin karena, Alan bukan tipe lelaki banyak duit. So what ?"
"Karena...ehmm"
wanita itu sepertinya ketakutan untuk menjawab, sesekali ia menoleh ke arah Alan. Sementara Alan masih merespon apapun.
"Apa.? cepat katakan jika berdua masih mau tinggal disini." gertak Marie.
"Karena om Alan sering datang ke rumah buat ketemuan dengan mama"
"Wait...maksud kalian ini apa ? jangan buat saya tambah bingung."
" Jadi gini tan..." Nanda mencoba menerangkan.
"Sstt...biar aku aja" sanggah Alan
"Mar...hessssh" Alan menarik napas dalam.
"Jadi gini Mar, Denanda ini anaknya si Desy"
"What ?"
Marie kaget tidak percaya.
"Tolong dengar dulu Mar, biar semuanya bisa jelas"
Alan kemudian berdiri menghampiri Marie yan duduk di kursi kerja yang agak jarak dari sofa.
" Saya sudah selingkuh dengan Desy, dan itu terjalin sudah dari beberapa tahun yang lalau."
Bersambung...
Komentar