"Deg,," berdebar jantung Marie. Entah kenapa ketika membaca nama kontak itu terasa sedikit nyilu di hati, raut wajanya berubah seketika. Ia langsung bergegas membereskan bekas makan mereka.
Sementara Stephen sudah menangkap arti dari bahasa tubuh tamunya itu, ia segera meraih gawainya.
"Entar ya Mar, saya mau terima telpon"
"Oh iya tidak apa-apa" Jawab Marie.
Stephen kemudian menjauh dari Marie dan masuk ke privat room yang berada di dalam ruangan itu juga. Sementara Marie masih terlihat sibuk membereskan piring kotor dan merapihkan meja. Tak enak hati jika ia meninggalkan ruangan itu dengan keadaan yang tidak rapih. Walaupun ada orang yang bertugas khusus untuk itu, tapi dia harus tetap melakukannya, karena itu sudah menjadi kebiasaanya ketika bertamu di tempat orang.
"Arraagghhh,,,Praakkkk,,," suara teriakan disertai dengan suara ambrukan kaca yang berasal dari privat room itu. Marie berhenti seketika. Sunyi sesaat tak terdengar suara apapun.
"Dasar kamu wanita sun**l. wanita tidak tahu diri, kamu akan menyesal suatu saat nanti, kamu pegang kata-kataku itu" Teriakan itu berasal dari ruangan yang sama. Sepertinya suara Stephen.
Marie mendekati dan memberanikan diri untuk mengetok pintu, tetapi pintu itu ternyata tidak bisa diketok, kecuali harus menggunakan kode untuk membukanya sementara Marie tidak tau kodenya apa.
Marie kemudian memgambil handphone yang sedari tadi berada di dalam tas kemudian mencoba menghubungi Stephen, tetapi tidak ada jawaban. Ia kemudian mengirim pesan lewat aplikasi yang berwarna hijau itu.
"Maaf Step, kalau kehadiran saya menggangu kamu. Lagian saya datang tujuannya untuk membahas bisnis yang kamu tawarkan, itupun kamu minta saya harus datang. Saya tidak bermaksud lebih dari itu. Aku mohon pamit. Selamat sore."
Marie langsung meraih tasnya dan kemudian menuju ke pintuk keluar. Ketika hendak membuka gagang pintu itu terdengar panggilan Stephen dari dalam dan disusul pintu privat room terbuka.
"Mar, tolong ke ruangan saya mar." Pinta Stephen.
Marie berpikir sejenak, masih belum membuka pintunya.
"Mar, tolong Mar. Karena kamu terlanjur tau, biar sekalian kamu tau kisah ku"
Akhirnya Marie memutuskan untuk masuk menemui orang itu. Ketika kakinya tinggal selangkah lagi untuk masuk, matanya tertuju dengan banyaknya tombol kode di pintu itu, ada untuk pengenalan wajah, sidik jari dan lain sebagainya. Jadi kalau mau masuk ke ruangan itu, harus mengikuti serangkaian aturan yang ada.
"Apakah saya juga melakukan hal ini" tanya Marie.
"Tak perlu, langsung masuk." Jawab Alan singkat, dengan berdiri membelakangi pintu masuk.
"Wah, pintu masuknya aja ribet, apa isi kamarnya ya ?" gumam Marie dalam hati.
Setelah melewati pintu itu, Marie diam karena tidak tahu harus berbicara apa ketika melihat keindahan dan kemewahan isi ruangan itu. Tetapi Ia menepis rasa kagumnya, karena itu bukan tujuannya. Ia mendekati Stephen yang sedari tadi berdiri menghadap ke jendela.
Ternyata di luar jendela di hadapkan langsung dengan pemandangan lautan. Desiran ombak masih terdengar ketika berada di ruangan itu.
"Hi Steph..." Marie mencoba meletakan tangannya secara perlahan di pundak Stephen. Stephen lalu menggenggam erat tangan mungil itu kemudian berbalik dan langsung mendekap Marie dalam pelukannya.
"Step,,Spep,,jangan Step,," Marie mencoba melepaskan pelukan itu tapi tak sanggup, semakin ia berusahan, semakin erat dipeluk Stephen.
"Ste,,stepp,, kalau kamu mau supaya saya mendengarkan kamu,,tolong lepaskan sekarang ! saya gak bisa napas lagi Step ohok,,ohok." Marie bersuara ngos-ngosan.
Kemudian secara perlahan Stephen melepaskan pelukan itu. Merasa tangannya sudah bisa leluasa bergerak, ia kemudian mengayunkan tangannya hendak memberikan sebuah tamparan ke pipi Stephen tapi Stephen dengan gampang menangkisnya lalu mengepal erat tangan Marie.
"Mar, jika kamu masuk hanya untuk menambah luka ku tolong pergi dari hadapan ku sekarang juga."
"Ok" Jawab Marie singkat lalu segerah mengayunkah langkah keluar dari ruangan itu.
Ketika hendak membuka pintu ternyata hana suda ada menunggu dirinya.
"Han, kamu dari tadi disini ? kenapa gak masuk ?" tanya Marie.
"E,,enggak bu,," Jawab Hana terbata-bata.
"Ayo pulang". Mereka kemudian keluar dari gedung super mewah itu.
"Han, kamu bisa nyetir mobil kan ?"
"Iya bu"
"Ya uda kamu yang nyetir ya, saya tidak bisa fokus."
Marie segera memberikan kunci mobil ke tangan Hana. Mereka pun kemudian meninggalkan perkiran yang berada di luar gerbang itu.
"oh iya Han, nanti tolong berhenti di warung 24 jam itu ya, saya mau belikan makan malam kita, kamu belum makan siang ya Han ?"
"Sudah bu, sebelum antarkan pesanan, kami sudahakan siang."
"Oh gitu, Han,,Emm,,gimana ya cara ngomongnya ? ehmm kalaupun kamu tau tentang kejadian tadi, saya minta tolong dirahasiakan diantara kita, boleh kah ?"
"Boleh bu, ibu tenang aja, hana bisa diandelin"
"Thank you ya Han"
"Sama-sama bu"
Sesampainya di warung itu, Hana memarkirkan mobil dan mereka segera turun untuk memesan makanan. Setelah beberapa menit pesanan pun selesai. Ketika hendak meninggalkan tempat itu, mata hana tertuju pada mobil yang tidak asing lagi, yang parkir tepat di depan klinik yang berada di samping warung itu.
"Bu, bukannya itu mobilnya bapak ?"
"Apa ?" Marie segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi tunduk melihat handphonenya.
"Itu bu, P********t putih, Plat mobilnya betul yang itu kan bu ? Hana mengarahkan tanganya ke arah mobil itu.
"Iya betul, ngapain ya dia ? Nanti Han, kita tunggu dulu, siapa tau orangnya keluar."
"Baik bu" Jawab Hana.
Marie segera melacak GPS yang tersambung di gawainya. Ternyata betul Hp dan mobil suaminya berada di titik yang sama, artinya kemungkinan besar suaminya berada di dalam klinik itu. Kurang lebih setengah jam orang yang mereka tunggu akhirnya keluar.
Alan menggandeng mesrah wanita muda yang mengenakan baju terusan berwarna merah maroon dengan perutnya sedikit membucit sedang menuju mobil itu.
Pemandangan itu seakan meluruhkan raganya Marie, Hati bagai di tusuk sebilah pedang, Sakit ? jangan ditanya lagi. Ia tak mampu melihat lagi, tak sanggup menahan tangis, Ia tak mampu lagi menahan air matanya, bulir-bulir bening itu kemudian berderai di kedua pipi mulusnya.
Tanpa disadari Marie, Hana merekam aksi kedua sejoli itu. Mobil putih itu akhirnya meninggalkan parkiran apotek.
"Bagaimana bu ? apa kita susul aja."
"Tidak perlu Han, ayo kita pulang. Tolong kirim video itu ke saya dan tolong langsung di hapus dari Hp mu ya Han, Bagaimana pun juga dia tetap suami ku, saya tidak mau mengumbarkan aib keluarga saya. Oya karena kamu ikut saksikan kejadian ini, jadi saya mohon hargai saya sebagai sesama wanita dengan menjaga rahasia ini ya, jangan sampe ada yang tau, apalagi Desy."
"Emang kenapa Desy bu ?"
"Suatu saat kamu akan tau"
Bersambung...
Hi giys, yang pengen dengar versi audiostory, silahkan mampir di chanel youtube aku ya;
https://youtu.be/nt61IMVF8Kc
Thank you 😊🙏
Komentar