"Sembunyikan sesuatu dari kamu ? maksud kamu apa Alan ?" Marie segera turun dari mobil, kemudian menutup pintu mobil itu dengan sangat keras.
"Bu..bun..tunggu bun." Alan juga ikutan turun dan berusaha meraih tangan Marie tetapi Marie malah menepisnya dan mengekori Marie masuk ke dalam rumah. Alan kemudian mangambil tempat duduk di sofa sedangkan Marie langsung menuju ke ruang kerjanya.
Karena melihat Marie tak mau ikutan duduk bersamanya, Alan juga akhirnya ikutan masuk ke dalam ruang kerja itu.
"Ayo jelaskan perkataan mu tadi" Tanya Marie dengan penuh amarah.
"Bun..tolong tenang bun..." Alan bangkit dari duduknya mencoba menenangkan Marie yang sedari tadi berdiri di hadapan Alan.
"Tenang ? kamu bilang tenang ? setelah telingaku memanas dan hatiku perih mendengarkan cacian itu ?" Suara Marie mulai mengisak dan meninggi, membuat karyawan di dapur yang tadinya kedengaran suaranya kini sudai mulai sunyi sepih.
"Bun...Ayah minta maaf. Tadi itu karena ayah tidak suka bunda memperlakukan ayah seperti tadi di banyak orang, bagaimana pun juga ayah ini seorang laki-laki, mau taro dimana muka ayah, jatuh sudah harga diri ayah." Alan mencoba meluapkan isi hatinya.
"Kamu yang seorang laki-laki, yang merasa paling kuat saja tidak mau disakiti, bagaimana perasaan saya sebagai perempuan apalagi saya istri kamu." Marie kemudian membalasnya.
"Lah, terus salah saya dimana Bun, ?" Alan bertanya lagi seolah tak tau kejadiannya.
"Eh kamu ya, pura-pura bego lagi. Kamu kemana saja. katanya mau tunggu di ruang tunggu, tapi malah keluyuran kemana-mana. Kamu selingkuhkan sama perempuan itu di toilet wanita ? ayo jwwab, cepatin jawab" Marie kemudian memengah erat kerah kemeja Alan kemudian tangan satunya mencoba meraih vas bunga yang ada di atas meja kemudian menonjok ke muka Alan.
"Haha.." Alan tertawa sambil menepuk tangan dan melompat-lompat, kemudian berlari ke luar ruangan menuju ke dapur produksi.
"Mba Des, hi semuanya..hahah" Sambil tertawa riang dan monda-mandir berlagak seperti laki-laki gay. Sementara karyawannya saling berpandangan dan terlihat kebingungan mengartikan ekspresi bosnya. Kemudian Hana mencoba membuka percakapan.
"Kenapa Pak, kok cengar cengir gitu?" Tanya Hana.
"Yes..Yes..akhirnya istri ku cemburu juga,,haha" Kemudian berlari lagi ke dalam menemui Marie.
" Terkadang Si Lonjong seperti anak kecil ya" tanya Suci ke Desy, sementara Desy menjawab hanya menaikan sedikit alisnya kemudian kembali lagi mencetak kue kering.
'Si Lonjong' adalah sebutan khusus buat Alan, karena dari tinggi badannya yang hampir 82 cm, yang mana nama itu hanya diketahui oleh mereka para karyawan, dan yang mencetuskan nama itu adalah, Hana.
"Bun, coba tarik napas dulu, hembuskan lalu tenangkan hati, baru ayah jelaskan !" Alan mencoba mengambil hari Marie.
"Jadi gini bun, pas bunda mulai masuk ke ruangan itu, ayah juga langsung nunggui di ruang tunggu. Nah kebetulan ada Pak Kumis lewat."
"Hah..Pak Kumis ? tanya Marie kebingungan.
"Ituloh bun, yang suaminya bun Nur, tetangga sebelah rumah kita."
"Oh, iya ya." Jawab Marie dengan menunjukan ekspresi sesikit tenang.
" Jadi pak Kumis itu nanyai, Ayah ngapai ? terus ayah jawab, ayah lagi nungguu bunda mau chek up, terus dia nanya lagi masih lama kah ? kalau masih lama nonggkrong di warung seberang jalan itu. Karena kebetulan dia juga mau jempu but Nur, tapi bu Nurnya masih lama. Jadi begitu ceritanya bun."
"Lah terus ko kamu balik, bagaimana ceritanya ? timpal marie lagi.
"Ayah balik itu karena, datang bu Nur katanya dia lihat bunda, lagi jalan-jalan sendirian di koridor klinik, makanya ayah cepat-cepat balik. Kan ayah sudah janjian mau nunggui disana..hehe..jadi begitu bun ceritanya."
"Oh gitu" Jawabnya singkat dan langsung Marie manarik napas dalam dan menghembuskan, sedikit legah dihatinya setelah mendengar penjelasan dari suaminya yang sedikit masuk diakal.
"Gimana bund, masih belum yakin juga dengan perkataan suamimu ini ? ya sudah untuk lebih meyakinkan lagi aku ta' telpon pak Kumis yo ? Alan segerah merogoh ke sakunya untuk mengambil telpon genggamnya dan terus berusaha membuat istrinya percaya dengan penjelasannya.
"Eh eh..kamu mau ngapai" tanya Marie seketika melihat Alan mulai memencet nomor yang tertera di kontak Hp.
"Mau nelopon pak Kumis" Jawab Alan.
"Tidak boleh, bikin malu saja !" Perintah Marie.
"Ya kan, biar bisa meyakinkan bunda." Jawab alan lagi.
"Iya sudah untuk kali ini saya percya, karena sedikit masuk diakal, tapi awas ! kalau kamu bohong lagi kedepannya. Saya selalu bilang yah, karena kita tidak dibolehkan kawin cerai jadi saya mengizinkan kamu sama wanita lain, tidak apa-apa bagi saya, intinya saya yang menentukan wanita itu, bukan kamu selingkuh dan berbohong dari saya. Bisa dimengertikan perkataan saya ini ?" Tanya Marie dengan penuh harapan agar suaminya dapat mengerti apa yang dia maksudkan.
"Iya ngerti aja bun, tapi kalau bunda milih yang janda terus sudah lanjut usia sedangkan yang saya mau adalah yang masih ranum, gimana dong bun ?" Balas Alan dengan memasang wajah melas bak anak kecil minta sesuatu kepada ibunya.
"Ewww..." Marie mengetok kepala suaminya dengan pulpen.
"Sudah, pergi sana ! Saya mau istirahat, ngantuk sudah saya, mana laper lagi. Mau makan bakso tapi tau-taunya tidak jadi, padahal kepengen banget." lirih Marie dengan penuh kesal.
"Ya uda bun, bunda tunggu sini, ayah yang belikan ya." Alan langsung bergegas keluar.
"Iya kalau mau." Jawab Marie ketika Alan sudah todak berada diruangan itu.
"Derrr.." Suara motor keluar dari garasi.
Mengetahui hal itu Marie segera keluar menuju teras sambil menunggu kedatangan suaminya.
Mata marie tertuju pada beberpa pot bunga miliknya yang berhamburan di pekarangan. Entah itu ulah apa. Ia segera merapikannya.
"Eh mba Mar, tumben keluar rumah, biasanya di dalem terus, takut kulitnya item ya"
Marie kemudian menoleh ke arah suara itu, ternyata itu suara salah satu dari sekumpulan ibu-ibu yang tiap hari hobinya nongkrong di warung bu Nur yang kebetulan warungnya bersebelahan dengan pekarangan bunga Marie.
"Tau tuh, gak mau bergabung takutnya kita mau ngutang kali ya, idihh amit amit, kita juga punya duit kali." timpal lagi seorang dari mereka."
"Apa takut kita nyobain kuenya terus dia rugi lalu bangkrut ? hahhaa." Mereka kemudian tertawa bersamaan.
"Padahal kuenya gak juga enak ya bun." sambung lagi yang satunya.
"Deg, nyilu banget hati ini, owh awas kalian ya, kalian tidak tau lagi berurusan sama siapa !" Marie kemudian melangkah menghampiri mereka. Terlihat beberapa dari mereka mulai memasang senyum palsu.
"Eh asal kalian tau ya,,mulut-mulut sampah seperti kalian ini yang membuat saya tidak mau memasukan kalian ke circle pergaulan saya, ingat itu ya ! Pantasan negara sebesar ini tetapi susah jadi negara maju ya, salah satunya karena ini, kebiasaan rakyatnya kerjanya cuman ngegosipin orang dan berharap rejeki datang dengan dalih rejeki sudah diatur, entar gak ada duit baru pemerintah dicaci maki, woe jemput rejeki woe..chui,,dasar lalat penjilat sampah yang berharap jadi kumbang pengisap madu!" Marie kemudian menyikat mereka dengan kata-kata itu. Mereka melirik satu dengan yang lainnya. Ada yang sudah mulai bangun dari duduknya kemudian menjauh.
"Derrr,,," motor Alan sudah tiba di garasi.
Marie kemudian masuk balik ke rumahnya dan menghampiri suaminya yang membawa sekantong besar bakso.
"Bunda bikin apa di warung bu Nur ? Tanya Alan.
" Emhh Sekedar ceritaan saja si, kenapa emang ?"
" Ayah hanya mau tanya saja. Ayo kita makan rame-rame di dapur, ini ayah beli 10 porsi."
Mereka kemudian ke dapur dan menikmati bakso bersama karyawan mereka.
"Oh iya bun, tadi ayah salah bawa handphonenya bunda, terus ada yang nelpon, katanya dari Mentornya bunda, Stephen namanya. Bunda kenal ?"
"hah mentor Stephen ?" Marie langsung tersedak dengan kuah baksonya.
Bersambung...
Komentar