Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 9 "Nomor Baru"

"Bye bunda" Alan kemudian melambaikan tangan ke isterinya sebelum berangkat ke kantor.

"Bye juga Ayah" Marie membalas dengan memberikan senyuman terbaiknya.

Mobil kemudian melaju menjauh dan hilang dari pandangan Marie. Ia kemudian masuk dan melanjutkan kerjaan yang kemarin sempat tertunda. Sementara ia melakukanya, memorinya membawa ia untuk mengingat lagi apa yang dikatakan suaminya kemarin saat lagi makan bakso. 

"Stephen ? nelpon saya ? kenapa bisa ?" Marie merasa bingung, bagaimana bisa Stephen menghubungi dirinya duluan sedangkan, dia juga belum mulai komunikasi dengan Stephen.

"Dariana dia dapat nomor saya ?" Pertanyaan-pertanyan itu, terus muncul dibenaknya yang membuat dia gusar dan tidak fokus untuk bekerja. Ia kemudian mengambil lagi kartu nama Stepen yang ia sembunyikan di berkas resep masakan.

"Stephen wijaksono Trainer of investment"
"Company Name; Widjaja Real Estate, 
Email address, Phone number, Company address, Company slogan; Make money."

Nama serta alamat lengkap tertera di kartu nama itu, Marie kemudian membacanya secara detail.

"Wow ada apa Stephen sampe-sampe kamu menghubungi diriku ?" Marie kemudian memberanikan diri untuk memyimpan kontak dan segera menghubungi teman lamanya itu.

Baru mau menelpon, ada notifikasi pesan WA masuk dengan nomor yang tidak terdaftar di kontak telponya. Marie kemudian menarik layar segi empat berukuran mini itu, lalu membaca pesannya.

"Hi Mar, kamu apa kabar ?"

"Hi juga, maaf ini siapa ya ?"

"Hem, pantesan kamu nanya, kamu gk save kontak saya kan ?"

"Maaf, apakah ini dengan Bapak Stephen Wijaksono Trainer of Investment and Real Estate ?"

"Betul sekali baginda ratu, hehe" Balas Stephen dengan mengirimkan 3 emot tertawa dan juga 3 emot mahkota.Entah apa itu artinya. 

"Hehe, maaf pak langsung ke intinya aja, ada apa ya pak ? oya saya kan belum hubungi bapak ko bisa tau nomor saya, dari mana pak ?

"Santai saja Mar,,kenapa harus panggil saya Bapak ? Emang sudah ketuaan ?"

"Tidak juga si, ya cuman kan kita harus menghargai orang, sebagai sesama manusia ciptaan" Jawab Marie bak orang bijaksana.

"Jadi langsung saja ya Mar, emm..ada yang perlu saya bahas mengenai aset mu yang kamaren kamu tawarkan lewat agen properti jika kamu mau saya belikan lebih dari harga yang ditawarkan, tapi bukan 2 kali lipat loh ya, hehehe. Oya terus ehhm, mengenai nomor mu itu saya rasa tidak pantas kamu tanyakan itu disaat kita sudah beralih ke era informasi..hehe." Marie bagai disambar petir membaca pesan dari Stephen tu. 

"Ok." Jawab Marie singkat. 

"Kira-kira bisanya kapan ya Mar, saya ikut saja waktumu ?" Stephen masih melanjutkan pesannya sementara diseberang, Marie sudah geram dengan kalimatnya Stephen. 

"Sombong betul tu orang, mentang-mentang sudah punya perusaan besar dan punya jabatan mentereng, jadi seenaknya merendahkan orang lain." tukas marie dengan wajah kesal.

'Hi Mar, jika kamu masih sibuk saya tunggu saja balasanya." Tak hentinya Stephen mengirim pesan. Untuk membuat Marie tetap focus dalam beketrja, akhirnya segera mematikan handphone itu dan kemudian melanjutkan kerjaannya.

Selang bebetapa menit berlalu, marie dikagetkan dengan bunyi telpon rumah, yang berada di ruamh tamu, Marie segera keluar untuk mengangkatnya. Tetapi Hana lebih dulu meraih gagang telpon itu.

"Hallo" Hana mulai menyapa.

"Iya betul, oh ada pak, Ibunya lagi dibelakang saya pak, mau saya berikan telponya ?" Hana mencoba menjawab pertanyaan yang sepertinya bertanya mengenai keberadaan Marie.

"Oh iya Pak, saya perlu catat dulu pesanannya" Hana kemudian mengambil post it serta pulpen untuk mencatan pesanan itu.Sedangkan Marie masih bingung dengan siapa penelpon itu. Karena dia tidak memberikan telpon rumah untuk masalah bisnin kuenya. Dia hanya menggunakan nomor telpon seluler.

"Emh halo Pak, saya ulangi ya, Ehm, kue kacang 5 toples, blackforest sedang 1 pcs, serta lapis surabaya ukuran 22 1 pcs ya Pak ?" Tanya Marie memastikan.

"Nanti kalau sudah ready saya hubungi bapak lagi. iya gimana Pak ? Oh iya ini ada bu Mar, segera saya berikan telponnya. Terimakasih Pak." Hana segera memberikan telpon ke itu ke bosnya lalu segera beranjak ke dapur untuk menyiapkan orderan.

"Ha..hallo ? maaf siapa ya." Tanya Marie dengan sedikit gagap.

"Mar, segera aktifkan handphone kamu, tak perlu tanya apa yang sudah kamu tau. saya yakin kamu sudah kenal sama suara saya sebelumnya."

"Steph..?" Belum lanjut bicara, telpon itu dimatikan. itu membuat Marie semakin geram.

"Sebenarnya apa si yang kamu inginkan steph, jika itu memang mengenai perkara bisnis itu, saya rasa kamu seperti seorang investor pecundang yang pernah saya tau, dasar tidak punya etika." Marie terus ceramah yang hanya didengar oleh dirinya sendiri. Ia kemudian mencoba mengatifkan handphone lagi, dan ternya ada banyak pesan yang masuk kurang lebih sekitan 20an pesan. Marie membaca, dan tidak menghiraukannya, namum, ada 1 pesan yang menarik perhatian Marie yaitu stephen mengatakan bahwa, " Mar, saya tau bahwa, kamu akan, dan pasti marah dengan tingkah saya hari ini, tapi itu perlu saya lakukan agar, secara tidak langsung saya mempelajari seberapa besar dan kuat emosimu sebagai seorang entrepreneur. Karena emosi juga menjadi suatu point yang perlu di perhatikan sebagai seorang pebisnis dalam menghadapi kekgagalan maupun keberhasilan perusahaan yang dimiliki. oya mengenai dari mana saya mendapatkan nomormu, saya mengambilnya dari list peserta seminar sesi ke 1. Maaf ya itu kedengaran konyol si, tapi saya perlu mengantisipasi agar, jika kamu tidak menghubungi aku entah itu apa alasannya, pastinya saya akan terlebidahulu menghubungi mu...Bolehkah saya telpon Mar ?" 

Setelah membaca pesan itu, bukannya emosi yang ia rasakan tetapi malah jadi lucu. Bagaiaman tidak ? Seorang anak dari kelas pembuangan sekarang menjadi pebisnis Top, yang mewariskan harta dari keluarganya, yang lagi sedang berusahan untuk memikat hati Marie dengan berdalih bisnis ?.
"Ok bisa, tetapi membahas hanya seputar bisnis kita, selebihnya saya tidak punya waktu." Marie membalas pesan singkat dan namun menohok itu. Tak ada jawaban, tetapi beberapa menit kemudian handphone pun berdering.

"Kring,,,Kring" Marie segerah memencet tombol berwarnah hijau itu.

"Ehem,,ehem,,Hal,,hallo Mar" sapa orang si seberang telpon itu.

"Iya hallo juga step" jawab Marie.

"ehhm.. kamu jika ada waktu luang dan tidak keberatan boleh gak ketemuan di kantor saya guna membahas projek kita karena saya mau kita jadi 1 tim, oya sekalian tolong antarkan pesanan kue saya,,saya mau kamu yang antarkan." suara stphen setengah memohon.

"Jadi kamu ini maunya meeting apa saya antarkan kurnya ?" Marie dengan kesal menjawan.

"Dua-duanya." jawab stephen lagi..

"Ok..tunggu saya segera kesana"

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"