Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 5 Peringatan untuk Desy

Pagi ini, Marie benar-benar menahan amarah, karena situasi dan kondisnya tidak mungkin untuk meluapkan. Bagaimana tidak,   Orderan banyak, Waktu hampir tengah hari, Desy tak kunjung tiba juga. Sementara, sudah 2 minggu ini, pemasukan harian tidak dia setor ke bank. Selama ini Marie diam akan hal itu, dia tidak begitu mempermasalahkan. Tetapi, semakin didiamkan semakin sengsara kita dibuatnya.
"Han, kalau setelah makan siang dan semua orderan sudah selesai di produksi, kalian istirahat saja. Kasihan kalian, kelihatan sudah sangat capek. Oya nanti ada calon karyawan baru 2 orang, nanti langsung disuruh masuk saja ya."
"Ok bu, siap laksanakan !" Jawab Hana tegas sambil mengulenin adonan.
"Terimakasih Han"
"Sama-sam bu"
Marie segera kembali ke ruangan kantornya, hendak melanjutkan membaca buku yang beberapa hari lalu dibeli dari gramedia.
"Tok...tok..." pintu diketuk.
"Iya Han, langsung masuk aja" Kata Marie.
"Maaf bu, ini dengan Desy" Seru Desy.
"Oh iya, Silahkan masuk Des."
Desy kemudian membuka pintu.
"Selamat pagi bu" Sapa Desy, dan langsung menuju ke sofa yang tepat di depan meja kerja Marie.
"iya pagi juga, silahkan duduk des, disni saja." Marie kemudian mempersilahkan desi untuk duduk lebih dekat lagi.
"Ayolah Des, biasa saja ! saya tau kamu, kamu juga tau saya, bukan beberapa menit yang lalu kita saling kenal !" Marie mengajak Desy agar tidak terlalu tegang dalam membahas masalah itu.
"Jadi gini Des, saya hanya ingin tau, yang pertama; kenapa  kamu tidak menelpon saya balik beberapa hari yang lalu ketika saya menyuruh kamu untuk telpon. Terus yang ke dua, saya hanya butuh kamu jujur, kenapa belakangan ini kamu sering absent dan lalai dalam bekerja ? itu saja dulu Des ! Silahkan di jawab Des."
"Ok. karena sekarang kamu meminta saya untuk jujur jadi saya akan jujur." Desy mengangkat wajanya, menarik napas dalam, kemudian menatap tajam Marie.
"Kamu tau sendiri kan Mar, kondisi hidup saya seperti apa ? bulsit kalau kamu pura-pura tidak tau." Desy sudah mulai meninggikan suaranya. 
"Terus kenapa kamu baru tanya sekarang hem ? padahalkan kemarin saya masuk kerja juga2 !?" Desy sudah mulai bangun dari tempat duduknya.
"Iya Des, hilang sudah kesabaran saya. selama ini saya diam, membiarkan kamu sesuka hatimu, tapi tolong Des.."
"Tolong apa hem." Belum selesai Marie melanjutkan kalimatnya desi langsng memotong. 
"Tolong membantu mendirikan bisnis kamu dan suamimu ? Desy menriaki kalimat itu sambil mengarahkan telunjuknya ke Marie.
Seketika Marie berdiri lalu menepis tangan itu.
"chui..." Kamu kira kamu siapa ? Berani-beraninya kamu lakukan hal ini padaku ? Kalau saya tidak punya rasa empati, Saya bisa pecat kamu sekarsng juga. Dasar manusia tidak punya hati."
"Ohh, sungguhh ? Desy mengucapkan sambil  membelai pipi Marie dan berjalan mengitarinya.
"Ingin memecatku ? Desy membisik pelan ke telingan Marie, lakukan sayang." Desi dengan sedikit desahan.
"Tapi, pastikan bahwa sebelum hal itu terjadi, kamu sudah baik-baik saja. Jangan menyiksa dirimu untuk kembali merindu. Itu sakit sayang. Hahah.." Desy tertawa karena merasa puas menghajar marie dengan kata-kata. Marie masih duduk manis di singgahsananya, sambil senyum menatap tingkah bawahannya itu.
"Oya, untuk masalah tidak punya hati, kamu kira kamu punya hati juga setelah membiarkan saya dalam penderitaan menyaksikan kehidupan bahagia kamu dan suamimu selama bertahun-tahun 
 ? Saya rasa saya sudah menjawab pertanyaan kamu." Desy terus membanjiri Marie dengan tamparan kata-kata, sementara Marie  masih dalam posisi yang sama, tetap tenang dan senyum mempesona."
"karena kamu hanya butuh saya menjawab pertanyaan dan saya kira itu sudah cukup  tenjawab. "Oya sebelum saya keluar dari ruanganmu ini saya mau bertanya sesuatu" 
Desy maju mendekati Marie Sementara Marie Sendiri meundur beberala langkah.
"Apa yang kamu mau daru saya ?" Tanya Marie. sekali lagi Desy merapatkan kepalanya ke telinga Merie kemudian berbisik. "Apakah suamimu memuaskan kamu ? atau kamu memuaskan dirimu sendiri ?"
"Plakk..." Marie mendaratkan tamparan keras ke pipi kiri Desy.
"Kurang ajar kamu ya ! sudah keterlaluan kamu sama saya. Jangan pernah mencapuri urusan  rumah tangga saya, lagian saya bos kamu, seharusnya menghargai saya, tapi kali ini kamu sudah kelewatan, sudah masuk ke ranah pribadi saya. Saya punya masa depan yang harus di perjuangan apapun resikonya, tidak seperti kamu yang hidup dalam bayang-bayang masa lalu." 
"saya tidak mau menghargai kamu sebagai bos saya, dan itu tidak akan pernah terjadi ketika kita hanya berdua. Akan saya selalu menghargai kamu sebagai seorang wanita apapun situasinya, dan itu belum tentu kamu dapat dari suami mu." 
"plak.." sekali lagi tamparan Marie ke Desy.
"Kamu tidak tau apa-apa tentang keluarga saya."
"Sunggu, yakin kah kamu?" Desy menatap tajam wajah Marie, kemudian maju selangkah lagi.
"Aku lebih tau tentang dirimu ketimbang dirimu sendiri." Bisikan itu seketika terdengar halus mematikan di telinga Marie. Seketika tangan Marie ingin menampar lagi, Tangan Desy menahan kemudian mendrong sampe tubuh Marie tersandar ke tembok.
"Des..des..jangan macam-macam kamu"
"Sttt..." Desi meletakan telunjuk kanan ke bibir Marie. Secara perlahan menundukkan kepala, merapatkan bibirnya ke bibir bawah Marie. "Chupp...Mar...saya merindukan ini"
Bisik Desy seketika melepaskan gigitan itu.
Sesaat menikmati, Marie segera mendorong kuat tubuh Desy.
"Berani-beraninya kamu melecehkan aku"
"Tapi kamu menikmatikan ?" 
"Saya akan melaporkan kamu, siap-siap saja kamu hidup di bui"
"Ayolah Mar, jangan membohongi dirimu, aku bisa merasakan kalau kamu juga menikmati, kamu boleh berkata tidak, tapi matamu, dan denyutan jantungmu mengiyahkan."
"Ahgg,,pergi dari ruangan saya sekarang juga, dan kamu hari ini saya akan kasih kamu surat peringatan."
"Iya, silahkan, dan saya akan menunggu selagi kamu menulisnya."
Sementara Marie mengetik Desy terus menatap tingkah Marie, sesaat Marie salah tingkah.
"Nih sudah" Marie menyodorkan lembaran yang belum diberi amplop 
"Yakin sudah tanda tangan ?" Tanya Desy memastikan.
Marie kemudian mengambil lagi dan swgera membubuhi tanda tangannya.
"Kamu juga jangan lupa tandabtanga" Marie mengingatkan Desy kemudian menyodirkan kembali.
"Pahitku saja susah aku lupakan, apalagi ini hanya hitam diatas putih." ujar Desy segera meninggalkan ruangan itu.
Sebelum memutar gagang pintu, Desy membalikan badan ke arah Marie, sambil mengibas amplop ke mukanya dan berkata, 
"Oya, cool juga cowo di tempat parkiran itu ? ada kontaknya kan ?" Marie seketika mengeritkan dahinya, 
"Keluar kamu sekarang juga sebelum vas bunga ini melayang ke muka kamu."
"Iya bu Marie Handayani Pratiwi. saya minta maaf karena lalai bekerja,saya akan keluar dari ruangan ini segera." Desy lalu meninggalkan Marie. 
Sementara Marie sendiri sudah kacau pikirannya. Memikirkan apa yang dikatakan Desy, yang tak lain ada benarnya juga, membuat marie bingung, sejauh ini  siapa dirinya yang sebenarnya ?
"Arghh..Saya bukan Marie yang dulu lagi, saya sudah bersuami, menikah sudah 10 tahun dan terutama kehidupan kami baik-bqik saja" Marie berucap untuk menenangkan diri.
"Tok..tok.."
"Mau kamu apa lagi desy" 
"Maaf bu ini Hana"
"Iya Han, masuk aja"
Kemudian Hana pun masuk.
"Maaf bu ganggu, ini ada orang yang mau nemui ibu,"
"Siapa?"
"Katanya si yang calon karyawan"
"Oh iya,,suru masuk aja"
Hana kmeudian menyuruh mereka masuk.
Setelah menyelesaikan percakapan diantara mereka. Marie menuju dapur produksi dan berlalu begitu saja. Terlihat Desy dan beberapa dari temannya berbaring dan Hana sampil membaca lembaran SP itu.
"Han, sudah bereskan kerjaan kalian"
"sudah bu" mereka serempak menjawab. Kecuali Desy. Dia masih terdiam.
"hust, itu ditanya bos" Hana memberikan kode dengan menagkatkan alis matanya berharap agar Desy meresponnya.
"Oh, iya, bagaimana ?" Desy pura-pura bego
"Mba Des, lain kali kalau punya telinga, tolong di fungsikan ya" tegur Marie.
"Oh iya bu, maaf ya bu, Desy minta ya bu"
"iya" Jawab marie singkat, kemudian menegukan segelas air putih.
"Makanya bilangi suaminya mba desi, kalau kirim uang yang cukup aja, jangan kurang terus."
Terdengar Hana menceramahi Desy.
Seketika Marie tersedak mendengarnya.
"Hah, ? Kamu kan janda Des" Batin Merie.
Bersambung...









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"