Pagi itu Marie dan Alan bersiap untuk menemui dokter kandungan, entah berapa puluh kali sudah bolak balik ke dokter, tetapi hasilnya selalu nihil.
Namun, tak ada kata menyerah bagi wanita tangguh itu. Berbanding terbalik dengan sang suami. Dia seolah punya pemikiran bahwa, tidak memiliki keturunan merupakan hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Toh, itu rahasia Ilahi, tetapi itu hanya ketika ia bersama Marie. Namun disaat dia bersama yang lain justru dia yang paling mendambakan memiliki keturunan.
"Ayah kita pake mobil ayah aja ya ?" Tanya Marie.
"Iya, mobil mana saja boleh, intinya sampe tujuan dengan selamat." Jawab Alan dengan ekspresi wajah datar.
Marie hanya diam mendengar jawaban itu.
"Oh iya, setelah dari klinik, bunda pengen makan bakso di tempat biasa, boleh ya ? pinta Marie setengah memohon.
"Iya boleh, tapi jangan lama, soalnya ayah mau ke kantor lagi."
"Ok. Bunda janji tidak akan lama."
Mobil pun melaju hingga tiba di sebuah klinik Ibu dan Anak. Mereka kemudian langsung menuju ruangan untuk ditindak lanjuti. Tetapi yang dichek hanya Marie, sedangkan Alan sedari awal tidak mau tubuhnya diapa-apain.
"Ok. Sekarang bunda masuk, ayah tunggu di ruang tunggu saja, nanti kalau sudah selesai segera temui ayah !"
"Iya Yah." Maria segera masuk ke ruangan itu. Setelah menjalankan serangkaian pemeriksaan, Marie kemudian keluar menemui suaminya di ruang tunggu. Namun setelah beberap menit melihat-lihat, tidak juga ditemui sosok suaminya. Dia berpikir suaminya mungkin keluar untuk merokok atau sekedar jalan-jalan keliling klinik.
"Ayah dimana ? bunda sudah di ruang tunggu. Nanti kita masuk bareng setelah 30 menit, temui dokter untuk ambil hasil test dan mungkin sedikit arahan. Bunda tunggu disini." Pesan itu kemudian dikirim Marie.
Untuk mengusir rasa bosan, karena menurut dia 30 menit adalah waktu yang cukup lama, dia kemudian menelurusi setiap sudut klinik itu, sambil mengambil beberapa foto selfi.
"Eh mba Mar, disini juga ya." Sapa ibu Nur yang kebetulan lewat. Ibu Nur merupakan tetanga Marie yang bekerja part time diklinik itu.
"Iya bu, mau chek up aja." jawab Marie dengan senyum sumringah.
"Ohh, tak kira ikut program hamil, hehe. Ok saya lanjut dulu ya mba."
"Iya bu. Sialahkan." Marie memberikan jawaban dengan sedikit menundukan kepala. Ia pun berniat kembali ke ruang tunggu, manakala suaminya sudah menungggu, lekas ia memeriksa handphone, belum ada balasan dari Alan. Ia kemudian menelpon lagi tapi tidak ada jawaban juga.
"Kemana perginya, masa dari tadi tidak ada jawaban juga, gak mungkin juga dia jauh-jauh dari handphonenya." Marie mengeluhkan tingkah suaminya, sambil berjalan menuju toilet wanita.
Sesampainya disana ia meletakan tasnya diatas wastafel kemudian membasu mukanya. Setelah itu tidak lupa juga membubuhkan make up ringan sambil memperhatikan garis kerutan yang beberapa sudah mulai muncul, yang membuatnya sedikit tak terima.
"Ah,,ah,, pelan Yah. Kata dokter jangan kuat-kuat, masih muda soalnya." Suara itu, di ruangan sebelah membuyarkan lamunan Marie. Tiba-tiba suara hp bergetar. Marie kemudian mejawab panggilan.
"Hallo dok, iya dok saya segera kesana." Tak menyadari, 30 menit sudah lewat. Ketika hendak melangkah pergih,
"kenapa yah, oh jadi kamu lebih memilih isteri yang tidak berguna itu ? ketika saya yang sudah mengandung anakmu ? mana janjimu ?" Suara itu seketika menghentikan langkah Marie. Ingin hatinya untuk mengetahui siapa dibalik pintu itu, tetapi ah sudalah itu bukan urusannya. Ia kemudian pergi dengan rasa penuh penasaran. Setibanya disana, Alan sudah menunggunya.
"Bunda dari mana ? Ayah tadi cari-cari loh?"
"Cari-cari, cek dulu tuh hp mu. Orang telpon malah tidak di respon, kamu itu sebenarnya punya niat apa bukan sih keisni ? jawab marie dengan penuh emosi sambil membayangkan jika ditoilet tadi Alan lagi bersama selingkuhannya.
"Stt..pelan-pelan. Malu dilihat orang-orang. Ayo masuk yuk." Alan mengajak, sambil berusahan menggenggam tangan Marie, tapi maria melepaskannya.
"Tidak usa, saya tidak butuh dekapan telapak kemunafikamu."
Marie langsung masuk ke ruangan itu sementara Alan dari belakang mengikutinya.
"Jadi gini bu Mar, kandungan ibu sebenarnya sudah menunjukan hasil yang baik, diihat dari hasil lab dan dari siklus menstruasi ibu, tidak menunjukan gejala lain. Jadi tinggal ibu rutin konsumsi obat yang diberikan, terapkan pola hidup sehat. Saya yakin sekali, 3 sampai 4 bulan kedepannya sudah menunjukan hasil yang lebih baik bahkan sudah tidak ada indikasi apapun. Kalau bisa suaminya juga ya."
"Hah, saya minum obat juga bu." Jawab Alan.
"Bukan, kan mas Alan tidak di periksa buat apa minum obat. Maksudnya pola makan sehat serta olahraga yang teratur, oya kurangi stres juga ya."
"Oh gitu ya bu, saya kira obatnya istri saya, saya bisa minum juga bu."
"Ya, tidak jugalah." Jawab Marie sambil menyenggol bahu Suaminya. Ibu dokter hanya tersenyum menyaksikan kelakuan pasangan suami istri itu.
"Eem, saya rasa cukup sekian dari saya, atau ada yang mau ditanyakan lagi ?"
"Oh, tidak dok. Sudah paham saya." Jawab Alan.
Marie seketika memalingkan wajanya ke arah suaminya.
"Bagaimana dengan Ibu Marie ?"
"Cukup dok, kalau misalnya ada yang mau saya tanyakan, saya pasti hubungi dok."
"Ok, kami permisi ya dok."
Mereka kemudian menjabat tangan dokter dan langsung meninggalkan ruangan itu.
"Kali ini, giliran kamu yang nyetir ya, saya lelah, mau tidur dulu." Titah Alan dengan memasang wajah tak akrab.
"Iya" Jawab Marie singkat. Akhirnya Marie langsung mengambil posisi mengemudi, sedangkan Alan langsung mengatur kursi duduknya agar bisa dipake buat tidur. Mobil pun kemudian melaju, kadang Marie melirik ke arah suaminya. Alan tertidur pulas, dengkuran terdengar nyaring. Selang beberapa menit, tiba juga di warung bakso pinggiran itu. Marie segera membangunkan suaminya. Namun yang didapat hanyalah cacian.
"What the fuck with you, orang lagi tidur malah diganggu, kalau mau makan ya silahkan ." Marie syok seketika mendengar cacian itu.
"Apa, kamu bilang apa barusan ? Oh tidak, kita harus kembali ke rumah dan selesaikan masalah ini. Saya bukan wanita yang diam ketika harga diri dipertaruhkan, silahkan pergi kalau sudah mulai bosan dengan saya?".
"Oh sunggu ? pertahankan harga dirimu ? terus apa yang kamu sembunyikan dari saya selama bertahun-tahun ?"
"Sembunyikan dari kamu ? maksud kamu apa ?"
"Eh Mar, asal kamu tau ya, cukup sudah saya diam dengan tingkah mu selama ini. Tadi juga kamu sudah mempermalukan saya di banyak orang, maksudnya apa kamu menepis tangan saya seperti itu ?"
"Jadi kamu tidak merasa bersalah terhadap saya, setelah kamu selingkuh dengan perempuan tidak jelas itu ?"
Bersambung...
Komentar