Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 15 "Ketika Alan cemburu"

Obrolan mereka terhenti ketika hp milik Marie berdering. Ia merogoh tangannya ke dalam Tas, hendak mengambil gawainya. Namun aksinya itu terhenti ketika melihat kalau sang suami yang melakukan panggilan itu. 

"Mar, sebaiknya di jawab jika itu telpon dari suamimu, mungkin dia khawatir tentang kamu, soalnya ini sudah mau hampir  jam 10.00 !" Seru Stephen memberikan saran.

"Hehe" Marie tertawa sinis sambil meneguk sebongkah es batu kristal ke dalam mulutnya. 

"Khawatir ?"

"Ia Mar, Khwatir ! tadi kamu minta Izinkan, sebelum kesini ?"

"Hehe, kamu lucu juga ya Step, kalau aku minta izin, tidak mungkin dia mau aku pergi sama lelaki lain selain dirinya. Selama aku menikah selama 10 Tahun, baru kali ini aku pergi dengan lelaki lain selain suamiku."

"Oh ya ? kalau begitu pulang sekarang, aku antar kamu. 

"Tidak usa Step, aku bisa pulang sendiri."

Ia kemudian ke meja kasir untuk membayar tagihan, tetapi ternyata sudah dibayarkan oleh stephen. Mereka kemudian meninggalkan tempat itu. Selama perjalanan Stephen mengikuti Marie hingga tiba di depan rumah dan menunggu hingga Marie Sudah benar-benwr masuk ke dalam, baru ia pun pergi. 

Setelah masuk, terlihat Alan sudah duduk di sofa depan, dengan memasang wajah beringas bak harimau hendak menerkam mangsanya.

"Selamat malam" 

Sapa Marie, tanpa menunggu jawaban, ia kemudian berlalu menuju ke kamar. Tidak peduli dengan siapa yang menanti dirinya. 

"Hei kamu, " 

Suara itu  menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Marie masih tak menghiraukan. Ia bahkan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum tidur. 

Setelah itu ia kembali lagi ke dalam kamar dan ternyata Alan sudah menunggunya. Hening seketika.

"Kasih saya satu alasan agar saya tidak boleh marah malam ini, hari ini adalah hari terburuk dalam hidup saya." Alan mulai membuka percakapan. Sedangkan Marie masih diam tak menghiraukan, ia terlihat sibuk dengan rangkaian skincare sebelum tidur.

"Kamu kira pantas seorang wanita bersuami, keluyuran diluar sana dengan lelaki yang tidak ia kenal ? dan lebih parah lagi tanpa sepengetahuan suami. Dari mana kamu hem ?"

" Dari mana ? kamu tanya saya dari mana ? seharusnya pertanyaan itu, saya yang tanyakan ke kamu, bukan sebaliknya !"

"Kenapa jadi playing victim terhdapa saya ? saya ini korban perselingkuhan kamu Mar !"

"selingkuh ? saya selingkuh ? bukannya kamu pergi dari rumah, hanya untuk tidur dengan wanitar lain di luar sana ?"

"Eh jaga mulut kamu ya,  Jangan suka membolak balikan fakta. Siapa lelaki yang kamu selingkuhi ?"

"Ok saya akan jawab, tetapi sebelum itu kamu juga harus, menjawab pertanyaan saya, kemana kamu pergi selama 2 hari ? Tidur dimana dan sama siapa ?"

"Eh, kamu jangan lari dari topik pembicaraan kita ya ?"

"Karena itu asal muasal masalahnya, kamu pergi dari rumah, kemana kamu berlabuh ? Apakah tidak ada solusi lain selain kabur dari rumah ini ? kamu pengecut Alan, tidak bisa menyikapi suatu persoalan, aku seorang perempuan yang dianggap rapuh, tapi aku kuat hadapin masalah ini, ,kenapa kamu sebagai pelindung rumah tangga malah pergi begitu saja ?" Marie mulai meninggikan suranaya. 

"Saya ada urusan pekerjaan diluar sana, ada proyek yang harus saya tanganin, tidak bisa dilimpahkan ke orang lain."

"Oh sunggu ? pergi menangani proyek dengan kabur dari rumah karena menghindari masalah adalah dua hal yang berbeda, harap paham itu !"

"Ok, saya pergi dari rumah karena saya menghidari tuduhan mu bahwa saya sudah selingkuh."

"Bukankah begutu ?"

"Plak,," satu tamparan melayang ke pipi Marie. Seketika air matanya langsung menetes. 

"silahkan tampar lagi, sampe sepuasmu. Sekarang terserah kamu, mau jujur atau tidak, aku tidak memaksa. Tapi yang perlu kamu ingat bahwa, akan lebih menderita ketika  menjalani hidup dengan membohongi diri menutub aib perselingkuhan. Cepat atau lambat tercium juga bangkainya. hiks,,hiks."
 
 Marie terisak sambil membetulkan piyama yang sempat di tarik oleh Alan. Ia kemudian naik ke ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya menghdap dinding, sambil menarik  selimut untuk menutupi tubuhnya. 

Sementara Alan masih duduk di tempat semula, di tepih tempat tidur. Dari dalam balutan selimut itu masih terdengar isak tangis. 

Sementara disisi lain Alan seperti menyesali perbuatannya, sudah dua kali ia berani mengangkat tangan terhadap istrinya. Sebelumnya ia tidak pernah mengatakan bahasa kasar apalagi sampe main tangan. Tapi entalah. 

Kurang lebih 30 menit berlalu tidak terdengar lagi suara berisik, sepertinya Marie sudah tertidur. Alan kemudian mendekati istrinya. Kemudian menarik turun selimut dari wajah Istrinya dengan secara hati-hati. Betul dugaan Alan, Marie tertidur pulas. Ia kemudian perlahan membalikan badan istrinya yang semula menghadap ke dinding.  

Di perhatikan lekat-lekat wajah cantik istrinya. Ternyata di usia yang hampir kepala 4, wajah istrinya masih terlihat seperti di usia 20 an, dan bukan hanya wajah, bodinya pun seperti gitar spayol. Ingatannya kemudian berpindah ke 2 tahun yang lalu, ketika ada acara ulang tahun perusahaan di tempat kerja Alan. Mereka semua diwajibkan untuk membawa sertakan keluarga, Ia lalu membawa istrinya. Ia sempat menangkap basah bosnya yang sedang menatap  lekat tubuh molek istrinya, ketika istrinya kembali dari toilet. Itu menjadi sebap ia sangat membenci bosnya sampe sekarang. 

Alan lalu mencium kening dan mengusap pelan wajah istrinya yang masih ada tersisa genangan air mata. Dilanjutkan dengan mencium lembut  bibir istrinya yang sangat tipis itu. Kemudian membisikan secara perlahan ke telinga istrinya. 

"Bun,,ayah minta maaf ya, sebenarnya ayah sangat menyayangi bunda, dalam lubuk hati ayah, bunda satu-satunya wanita yang tidak tergantikan oleh siapapun itu, ayah yakin, bunda tau itu, ada masanya ayah untuk mengakui kesalahan ayah, tetapi jangan maksa ayah untuk sekarang ya. Ingatkah bunda, waktu ayah kabur dari rumah orang tua ayah agar bisa hidup bersama bunda ? love you bunda." 

Seketika Marie langsung membuka matanya, yang membuat Alan kaget bak melihat roh halus.

"Oh, jadi kamu pura-pura tidur ya ?" Seru Alan karena merasa dirinya seperti sudah di kerjain oleh Marie. 

"Awalnya aku tidur, tapi aksimu buat aku terjaga. Pengecut kamu, dasar laki-laki peng....." Belum selesai mencerca Alan, Marie langsung dihujani dengan gigitan liar ke mulutnya.

"da,,dasar,,kam,,"

"Sstt,,diam bun,,nurut aja"

 Alan lalu menanggalkan balutan yang melekat di tubuh istrinya. Secepat kilat tangannya memainkan perannya. membiarkan tombak kokoh leluasa menembus tembok pertahanan milik istrinya. Berbagai macam gaya dalam berperang, langsung dilakoni.  Kurang lebih 7 menit. Lelah letih tak bisa di lukiskan, keringat membasahi tubuh. 

"Bun,,kenapa begitu nikamat ?" sambil menoleh ke arah istrinya.Tetapi....


Brrsambung.....








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"