Chapter 14 "Makan Bakso"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Hah,,? Nanda,,?"
Marie diam sejenak, tak lagi melanjutkan langkah kakinya. Ia memerintahkan memorinya untuk mengingat nama itu. Tak menoleh ia ke arah sekumpulan ibu-ibu itu, kemudian perlahan melangkah pergi, menuju parkiran mobilnya.
no
Sesampainya disana ada mobil lain parkir tepat bersebelahan dengan mobilnya, ia tak begitu menghiraukan. Ketika hendak membuka pintu mobilnya, terdengar dari dalam mobil lain itu, suara seseorang yang tidak asing lagi memanggil namanya.
"Mar"
Marie kemudian menoleh. Terlihat seseorang yang hanya membuka sedikit kaca mobil, yang terlihat hanya jidat serta matanya. Sementara Marie masih ragu untuk mendekat.
"Mar, ini saya." Secara perlahan menurunkan kaca mobil.
"Stephen,,? Kam,,,"
"Sttttt" Belum selesai bicara stephen sudah memotong kalimatnya, sembari menempelkan telunjuk di bibirnya, berharap agar Marie mengerti apa yang dia maksudkan.
"Pelankan suara mu Mar." cetus orang itu.
"Iya kan saya kaget, lagian disni tidak ada siapa-siapa selain kita. Kamu ngapain disini, awas kalau kamu buntutin aku.
"Ya enggak dong. Ceritanya panjang. Saya nunggui kamu dari tadi buat temanin makan siang. Ayo lunch bareng. Pokoknya harus mau, tidak boleh ada alasan lain, nanti saya kirimkan alamatnya."
Tanpa menunggu jawaban, Stephen kemudian menutup kembali kaca mobilnya kemudian pergi meninggalkan Marie yang masih belum yakin dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
"Ting" notifikasi pesan masuk membuyarkan lamunan Marie. Menghalaukan mata marie dengan mobil stephen yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Mar, posisi kamu dimana sekarang ?" Isi pesan dari sahabatnya, Bridgette.
"Saya sekarang tidak dirumah, lagi diluar. Why Brid ?"
"Sekarang kamu lagi di Pusda (Perpustakaan Daerah)?"
"No,nop, saya lagi mau lunch bareng client, saya hampir 2 bulan belum berkunjung lagi ke pusda brid, saya mau selesaikan buku yang kemarin baru beli, mungkin minggu depan sudah bisa kesana. Oya emang kenapa si Brid ?"
Temannya itu kemudian mengirimkan pesan gambar.
"Tuh, lihat tuh, tadinya aku kira kamu sama Alan, eh tau-taunya bukan. Kamu kesini segerah, aku tunggu disini."
Melihat gambar itu, sangat jelas bahwa itu adalah suaminya dengan seorang wanita yang duduk membelakangi, jadi tidak terlihat jelas itu siapa. Maria tidak mau berpikir negatip, mungkin itu teman kantor suaminya. Mungkin mereka lagi makan siang bareng.
Tapi wait, makan siang di pusdah ?
Ia kemudian melihat dengan saksama gambar itu. ada yang mengganjal, terutama si wanita. Marie kemudian memperbesar objek gambarnya, sepertinya ia tengah berbadan dua, posisi duduknya yang tegak dengan batang tubuh yang membesar dan tidak melengkung halnya kaum hawa lainnya, serta lehernya terlipat menghitam di samping kiri kanan dan itu bisa dilihat dari belakang.
Karena penasaran Marie akhirnya memutuskan untuk menyusul ke tempat itu.
Ia kemudian mengirim pesan ke Stephen.
"Sorry Bro, saya tidak bisa untuk siang hari ini, karena ada urusan mendadak. Tapi kalau mau malam kita bisa dinner bareng, aku janji."
Tak menunggu lama ia kemudian melajukan mobilnya. kurang lebih 20 menitan sudah sampai di tempat itu.
" Brid di lantai berapa ?"
" Mar, sepertinya Alan sudah tau kalau saya disini juga, mereka sudah menuruni tangga, kamu masih dimana mar ?
"Ok saya tunggu bawah Brid."
Maria kemudian pura-pura sedang menerima telpon tetapi matanya sesekali melihat ke arah anak tangga. Beberapa menit kemudian, Terlihat dari atas, kedua sejoli itu menuruni anak tangga, lelaki itu mengalungi lengamnya ke pinggang wanita itu, sedangkan wanita itu merapikan kain serta masker yang menutupi aurahnya, perutnya sedikti membuncit. Mereka terlihat tergesa-gesa, seperti di kejar sesuatu.
"Jelas ini bukan teman kamu alan" Marie bergeming.
Wanita itu adalah wanita yang sama yang pertama kali ia dan Hana lihat beberapa hari lalu di Apotek. Ketika hendak menuju pintu keluar, mereka berbagi arah, yang lelaki ke arah pintu samping kiri sedangkan yang wanita terlihat menuju ke arah kanan, lalu dengan mobilnya langsung keluar dari parkiran. sepertinya Alan sudah menunggu di depan jalan. mobil itu pun melaju jauh.
"Hehe,, kita kena jebakan batman Brid,, tadi itu temannya Alan, kami ketemu di luar. Oya aku langsug balik ya Brid, Makasih atas infonya." Marie sengaja berbohong kepada sahabatnya, karena ia tidak mau aib keluarganya diketaui orang lain, walau itu sahabatnya sendiri. Marie akhirnya meninggalkan tempat itu. Temapt yang dulu menjadi salah satu yang ternyaman untuk disinggahi, kini sudah menoreh luka menjadi saksi atas pengkhianatan lelaki yang dicintai.
"Masa si Mar, aku bukan bocah, aku bisa tau loh, mana teman mana bukan, kamu harus ingat ! aku juga korban pelakor, belajar dari pengalaman ku Mar !" Pesan masuk dari Bridgette setelah Marie sudah tiba di rumah, Ia malas meladeni. Ia kemudian menenangkan diri dan beritirahat sejenak, karena sudah begitu berat beban yang ia pikul.
Waktu sudah menunjukan pukul 05.30. saatnya, ia bersiap-siap untuk meluangkan waktu makan malam bersama Stephen. Ada beberapa notifikasi pesan serta panggilan masuk dari Stephen, namun ia belum sempat untuk membaca pesan itu. Kurang lebih 40 menitan, Setelah mempercantik dirinya dengan berpadu padan outfit yang simple tapi elegant. Ia kemudian pergi menuju alamat yang sudah dikirim Stephen.
Sepertinya arah itu menuju ke salah satu restoran mewah dikota itu. Sambil melajukan mobilnya ia, meraih handphone yang ada di tas hendak menelpon Stephen, karena ia mengurungkan niatnya untuk makan diresto itu.
Entak kenapa moodnya seketika berubah. Ia pengen makan bakso yang dipinggir jalan.
"Hallo Step,,"
"Ya, Mar halo, gimana Mar, aku uda dalam perjalanan. Kamu dimana ?"
"Sama aku juga. On the way. Sorry banget Step. Boleh batal di resto itu Step ? tiba-tiba aku kepengen makan bakso Pak Urip yang di Jl. Dermaga itu, ini aku menuju kesana. Nyusul aku ya !"
"Oh iya, tidak apa-apa, 10 menit lagi aku sudah disana." Masing-masing dari mereka kemudian mematikan telponnya.
"Pak, bakso tetelan 2 porsi ya, sama minumnya,,,eh kamu mau minum apa ?"
Marie terlihat bingung ketika memesan jenis minuman yang disukai oleh lelaki yang duduk didepannya yang sedari tadi terus memeperhatikan tingkah Marie, yang menurutnya sepertih gadis desa yang luguh dan polos.
"Hei,,bengong kenapa si, mau minum apa ?"
"heem, terserah kamu mau minum apa." Jawab Stwphen dengan sedikit merasa malu, karena gelagatnya sudah di baca oleh Marie.
Akhirnya bakso itu mereka makan dengan lahap.
"Wah, enak juga ya !" ucap Stephen memecahkan keheningan.
"Iya, ini langganan aku sama suami."
"Deg " Jantung Stephen seketika berdegup kencang, hati merasa sedikit nyilu ketika mendengarkan kalimat itu. Dengan spontan langsung diam seribu bahasa, raut wajahnya langsung berubah, sementara Marie menangkap hal itu.
"Kenapa diam Step, Cemburu ? hihihi." Marie tertawa kecil.
"Ya mana mungkin Mar ?"Jawab Stephen dengan memalingkan pandangan ke tempat lain.
"Kenapa ?" tanya Marie sambil menyedotkan sisa-sia es batu yang ada digelasnya.
"Ehhm,,entalah, mungkin aku sudah terbiasa disakiti, hingga cemburu itu terasa asing bagiku, tapi entalah untuk kali ini, tidak bisa membedakan antara hangatnya kuah bakso dengan hangatnya api cemburu."
"Uhhuii,,gombalmu kali ini garing banget Step. Oya, tadi katanya mau ceritakan sesuatu. Apa itu ?" Marie mulai mengalihkan pembicaraan, karena terlihat Stephen sudah mulai terbenam dengan sebuah rasa yang entah apa itu.
"Menurutku ini belum waktu yang tepat Mar, karena tidak punya cukup privasi. Ini terlalu terbuka tempatnya, Rencananya si..."
"Kring,,kring"
Belum melanjutkan pembicaraan handphone Marie berdering, ada panggilan masuk dari my husban.
Bersambung
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar