Seminggu telah berlalu setelah kejadian menyakitkan itu. Marie berusaha mengembalikan suasan seperti semula, melupakan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bun, hari ini hari senin, jadi seperti biasa, full time saya di kantor sampe jam 12.00, selebihnya saya ada jam ngajar sampe malam. Entar malam kalau bunda lapar, makan saja, jangan tunggu saya."
"Ok sayang" Jawab marie singkat sambil membantu merapikan setelan suaminya.
"Oya, saya makan siang dikantor,. So, tidak perlu bawa bekal"
"Ok. Saya juga tidak sempat buatkan bekal kamu yah." Jawab marie memelas.
"Tidak apa-apa bun. Aduh sudah telat ni, ayah harus segera pergi, cup,cup" Alan kemudian memberikan kecupqn tepat di kening istrinya, kemudian langsung pergi. Seketika mobil yang dikendarai Alan melaju dengan cepat.
Marie kemudian menuju ke ruang kerjanya yang berada tepat di samping kamar tidurnya.
"Maaf Alan, karena kamu mulai tidak jujur dengan saya, maka saya akan melakukan dengan cara ku, siapkan mental baja mu untuk meneriman kejutan ku ini, hem" kata Marie dengan mengangkat sedikit alis kirinya. Marie kemudian print out dugaan barang bukti. Beberapa gambar dijadikan satu lembar. Marie menghela napas panjang, semoga ini berguna kelak.
"Langkah pertama sudah dilakukan. Tunggu saja permainan selanjutnya Alan Baskiro. Aku akan mengikuti permainanmu, sehebat apa dirimu yang suka diagung-agungkan oleh keluarga besar mu."
Marie kemudian menyelipkan hard copy itu ke berkas resep makanan yang dikoleksinya, karena Ia yakin berkas itu yang tidak di suka oleh Alan, sehingga mustahil Alan mengusik.
"Ok, sekarang kita beralih ke To do list, apa yang harus saya perbuat hari ini. Pemesanan bahan baku, menghadiri seminar investasi, membeli buku di gramedia." Marie kemudian mengambil gawainya hendak menelpon Desy, tetatpi karena todak d respon akhirnya dia mengirim pesan singkat.
"Des, tolong pastikan lagi bahan apa yang sudah mau habis di gudang, tolong segera informasikan ke saya, terimakasih."
berselang satu menit langsung muncul centang biru dua.
"Kring, kring." Marie segera menjabaw telpin itu. "Iya, hallo" Sapa Marie.
"Hallo bu, Maaf bu, ini Hana. Ehhmm mba Desy nda turun kerja ew bu hari ini, tapi stok bahan sudah saya kirimkan ke email ibu."
"Oh gitu, ya uda. Makasih Han." jawab Marie singkat, lalu segera menutup telpon.
"Tapi kenapa tidak konfirmasi ke saya kalau tidak masuk hari ini ? belakangan ini dia semakin berubah." Keluh Marie dengan sikap teman sekaligus karyawannya.
"Des, jika kamu sudah punya waktu luang, tolong telpon saya, ada hal yang ingin saya bicarakan, terimakasih." segera pesan itu kemudian dikirm ke nomor Desi. Menunggu beberapa saat tetapi tak ada respon apapun.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Marie kemudian mempersiapkan diri untuk menghadiri seminar tentang investasi bertempat di hotel ternama dikota itu, yang dibawakan oleh salah satu Investor terkaya di negeri ini, tentunya Marie tidak mau melewati kesempatan emas itu.
Tak butuh waktu lama ia mendandani dirinya. Kali ini dengan outfit santai. Kaos putih bertuliskan sweet girls dipadu dengan jeans biru dengan bawah Snekers putih. Tas samoing dengan rambut dikuncir kebelakang dengan sedikit poni ala-ala eoni Korea.
Yap, itulah Marie simple orangnya. Tidak suka dengan banyak aksesoris menghiasi tubuhnya. Tubuh tinggi 170 cm, cukup tinggi untuk ukuran tubuh wanita Indo. Membuat dirinya terlihat langsing dan cocok dengan memakai pakaian pakaian jenis apa saja.
"Ting" Pesan masuk WA group . "30 menit lagi seminar akan dimulai"
Marie bergegas pergi, melajukan mobilnya dan selang beberapa menit ia tiba di hotel itu. Parkir mobil dan langsung menuju ke ruangan seminar. Ketika memasuki ruangan, banyak peserta sudah hadir. Marie seketika kaget karena rata-rata peserta terlihat berusia diatas 40 tahun. Hampir tak ada anak muda menial. "Wow, hebat sekali"pekik Marie. Ia langsung menuju kursi kosong dibaris ke dua, Didepannya ada beberapa kursi yang sudah diisi. Ia kemudian melihat sekeliling ruangan, benar-benar terpukau, ruangan mewah dengan design eropa dan tak kalah menarik adalah hidangan menu manakan khas nusantara lengkap. "Wow, ini seminar apa ajang bazar kuliner ya ? Tak salah lagi kalau saya membayar mahal untuk acara ini." Marie tertegun sambil menganggukan kepala. Dan membuat dirinya lebih terkagum adalah peserta seminar itu. masing-masing dari mereka sibuk dengan kegiatan yang tak lazim di lihat di negeri tercinta ini. "Membaca !" ya membaca. Ada yang baca buku, koran dan ada juga yang melihat-lihat ulasan arus kas di labtopnya. malu ia dibuat mereka.
"Dek, saya boleh pinjam pena ? pena saya macet." Tanya ibu disampingnya yang sepertinya dari etnis tionghoa.
"Oh, iya bu boleh, ehm pake saja bu. Kebetulan saya ada dua pena."
"Iya, terimakasih ya dek."
"Sama-sama bu" Marie seketika sengaja melirikkan matanya ke arah ibu itu.
"Wow, 10 list pertanyaan yang nantinya akan diajukan. Serius ? belum dibicarakan tapi sudah buatkan pertanyaan ? ok. berarti dia tau apa saja yang nantinya akan dibahas,hem" Batin Marie
"Kenapa kebiasaan kebanyakan orang diluar sana yang saya kenal berbeda dengan yang sekwrang saya temui ?
"Apa betuk ini diisi orang kaya, sehingga kebiasaanya berbeda dengan yang lainnya ?"
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan yang membuat Marie terus berpikir.
"Ah, entalah. mungkin aku baru menemuka lingkaran orang produktif." Marie seketika mengatur posisi dan menangkan pikirannya, kqrena dilihat dari jam, seminar akan segera mulai.
Tak menunggu lama Sang Pembica datang. Orang-orang mulai menyalamainya, tak terkecuali Marie. Acara dimulai. Pak Hendra Gunawan yang dijuluki "bapak Investor Indonesia" memberikan materi dengan sangat singkat, padat dan jelas. Saatnya sesi diskusi. Peserta sangat antusias, itu terliaht dari hampir seluruhnya angkat tangan, saat Pemateri berkata; "ada yang mau ditanyakan ?"
Marie lalu menatap ibu separuh baya disampingnya, Ibu itu menatapnya balik, mereka berpandangan.
"Ayo dek, bertanya. Ini kesempatan kita" kata ibu itu. Marie merasa tertampar seketika. bagaiamana tidak, Seorang paruh baya dengan semangat juang yang tinggi untuk terus belajar. Ternyata belajar bukan hanya dibangku sekolah ataupun kuliah dan belajar juga tak mengenal batas usia.
Beberapa pertanyaan sudah dijawab. Pembicara itu masih memberikan kesempatan untuk satu pertanyaan lagi. Akhirnya kini giliran ibu itu.Marie juga mengangkat tangan tapi akhirnya Ibu itu yang terpilih. Tak mengapa, Marie tidak berkecil hati, setidaknya banyak pelajaran yang diperoleh dari seminar itu.
"Iya bu, silahkan." Pembicara mempersilahkan Ibu itu untuk bertanya.
"Ehm, Misalkan saya sebagai "s" yang artinya small business tetapi saya ingin berpindah ke sisi kanan quadran sebagai "I" investor, dimana, saya mempunyai property senilai $350.000, dan saya ingin berinvestasi di beberapa bidang dengan nilainya lebih tinggi dari nilai property, kira-kira langkah apa yang lebih tepat yang bapak anjurkan. Terimakasih."
Terlihat pembicara itu menarik napas panjang, kemudian sedikiti menudukkan kepala tanda bersedia untuk menjawab pertanyaan. Itu menjadi salah satu topik yang hangat untuk didiskusikan.
Kurang lebih 2 jam, akhirnya seminar seson 1 itupun di akhiri. Masing-masing dari mereka mengantri untuk keluar. Tak lupa juga beberapa dari mereka membawa pulang makanan.
Marie segera menuju Parkiran. Ketika hendak membuka pintu mobil, seseorang datang menghampiri.
"Hei, kamu Marie kan ? ex anak SMAK Santa Barbara Kelas IPA ?" Sapa orang itu.
"oh,Iya betul. Maaf bapak siapa ya ?" Jawab Marie, sambil mengerutkan dahi tanda tak tahu.
"Saya Stephen, waktu itu di saya dikelas buangan. Ingatkan ?" Jawab orang itu memastikan ingatan marie.
Marie terdiam sejenak, pikiran kemudian melayang jauh ke beberapa tahun silam waktu masih duduk di bangku sekolah menengah.
"ohh," sambil mengangkat dagunya.
"iya-iya saya ingat sekarang, kamu stephen yang waktu itu kita gabung kelas terus kamu pinjam catatan saya terus sampe sekarang gak balik-balik kan ?"
"Hehe iya" Jawab stephen malu-malu.
"Btw, kamu kerja disni ?" Tanya stephen lagi.
"Oh, bukan. Saya ikut seminar."
"Seminar ?"
"Iya seminar"
"Di sesi pertama denga Pak Hendra Gunawan ?"
"Lah, ko kamu bisa tau ?"
"Iya itu rekan bisniku, sekaligus mentor saya. Saya pembicara di sesi ke 2, bareng Pak Hendra juga."
"oh begitu rupanya" jawab Marie sambil anggukan kepala.
"Oya, aku pamit ya, soalnya jeda hanya 30 menit. Emm, boleh saya kasih kartu nama saya ? tanya orang itu sambil menyodorkan kartu namanya.
"Oh. ok ok." Marie kemudian mengambilnya.
"Nanti tolong hubungi ya." Pesan orang itu sambil menyodorkan tangan, salam perpisahan kemudian pergi. Sementara Marie masih mematung menatapi lelaki itu berlalu sampai tak terlihat lagi.
Ia kemudian melajukan mobilnya ke tempat selanjutnya yaitu Citra Mulia Mall. Sesampainya disana, Ia langsung menuju ke gramedia yang berada di lantai 5. Ia kemudian menelusuri setiap rak buku bisnis. Ada satu buku yang menurut dia sangat menarik untuk dibaca, yang masih berkaitan dengan apa yang dibahas di seminar tadi.
"Rumah mu bukanlah asetmu". Ya itulah judul bukunya. Setelah membaca sinopsi, Marie langsung jatuh hati pada buku itu.
Ketika hendak menuju ke meja kasir, terdengar percakapan dari lorong sebelah,
"Pelan ayah, itu baru berusia dua bulan, iyakan nek ?"
"Iya sayang, nanti kalau sudah besar, jangan seperti ayahmu ya, suka main perempuan. Hehe." Suara itu sangat tidak asing di telinga Marie.
Ketika melakah hendak memastikan, tiba-tiba,
"Hei Mar, kamu disini juga sekalinya." suara Bridgete mengagetkannya.
"Oh iya iya"
"Kamu kenapa, seperti orang kebingungan ?" Tanya temannya.
"Oh, kamu si kagetin orang, syukur saya bukan penderita jantung, kalau iya, sudah tewas saya disini." Canda Marie.
"Kamu dipanggil, tidak menoleh juga" protes temannya.
"lah, ini saya nyahut" jawab Marie
"Bukan yang pas lagi keluar dari restoran fast food itu. Kan kamu lagi jalan bareng Bang Alan, aku di belakang mu, eh malah engga kamu hiraukan.
Betsambung....
Komentar