Setelah selesai menelpon, tak disadari Waktu sudah menunjukan pukul 13.00. Jamnya makan siang sudah lewat bagi Marie. Akhirnya dia memutuskan untuk makan siang di luar sekalian mengantarkan pesanan Stephen.
Ia kemudian ke dapur produksi untuk memastikan pesanan itu sudah ready apa belum.
"Hi Han, apakah sudah ready pesanan Pak Stephen ?" Tanya Marie.
"Iya bu" Jawab Hana.
Mata Hana langsung melirik ke Desy. Biasanya hal semacam itu, Marie lebih percayakan ke Desy, Jadi Marie tinggal terima beres. Tapi belakangan ini dia lebih sering berkomunikasi dengan Hana.
Desy pun kelihatan tidak terusik. Dia terus melanjutkan kerjaanya.
"Ayo Han, kalau sudah ready kita antarkan sekarang. Sudah tau kan alamat kantornya pak Stephen ?"
"Ehhm..belum bu saya lupa ew tadi nanya"
"Ok tidak apa-apa, ada di kartu namanya."
Marie segera merapikan dirinya. Sementara Hana masih penasaran dengan sikap bosnya itu. Ia kemudian mendekati Desy.
"Mba Des,,maaf ya, emm, bukannya Hana mau ikut campur tapi, emm,,kenapa Ibu bos ko sepertinya berubah gitu sifatnya. Biasanya kan mba Desy yang kontroling semuanya sampe ke pengantar. Tapi kenapa ini bos yang ngambil alih ?"
"Gak tau tuh, mungkin sudah tidak percaya lagi sama saya,,hehe !"
"Moso si mba ? jangan bilang kalau mba Desy korupsi ya ?" Hana bertanya dengan berharap jawaban yang pasti.
"Ahh,, entalah, tanya tuh sama bos mu"
Desy kemudian menyiku Hana agar segerah menjauh dari sirinya.
"Yehh,, bos mba Desy juga kali" Jawab Hana sambil menjauh dari Desy.
Hana dan ke 4 temannya itu kemudian membawa pesanan itu ke mobil Marie yang berada di garasi.
"Ayo mba Han," sapa Marie yang seketika mengagetkan Hana dan temannya, Karena mereka tidak tau jika Marie sudah berada di belakang mereka.
"Saya jadi ikut juga bu ?" Taya hana memastikan.
"Ya iya dong ! masa saya sendiri, nanti nuruninya saya yang repot" Jawab Marie menegaskan.
Akhirnya mereka berdua pun mengantarkan kue sesuai alamat yang dituju.
Sesampainya disana,
"Ini benar sudah bu alamatnya ?" Tanya Hana yang sedari tadi disuru memegang kartu nama.
"Iya, sesuai kan di kartu namanya. PT. Widjaja RE, Cipto Mangunkeseme Steet No. 32 ?"
Marie kemudian mengecek lagi alamat yang sesuai di kartu namanya.
"Ok, fix sudah alamatnya. Sekarang kita masuk." Ajak Marie.
Mereka kemudian menghampiri security yang berada di post tepat di pintu gerbang kantor itu.
"Selamat siang, ada yang bisa di bantu ?"
Sapa security itu dengan tangannya mengambil sikat hormat terhadap tamu.
"Oh iya pak selamat siang juga. Perkenalkan nama saya Saya Marie dan ini Hana rekan kerja saya" Marie menjawab rekan kerja sambil tangannya merangkul lengan Hana. Hana tertegun seketika.
"Ehm, kami mau antar pesanan kue punya bapak Stephen sekalian saya mau bertemu dengan beliau, ada bapak Stephennya ? Tanya Marie.
"Sudah buat janji temu bu ? Tanya security itu lagi."
"Iya sudah Pak" Jawab Marie.
"Bentar bu ya" Security itu segera meraih gagang telpon dan mulai menelpon.
Setelah selesai melakukan panggilan itu kemudian Menyuruh Marie dan Hana segera masuk menuju ke gedung besar berwarna kuning keemasan itu.
"Wow bu, saya gak pede ew bu masuk ke gedung mewah ini dengan pakaian dapur." Seruh Hana sambil tersenyum dan matanya melirik ke arah Marie.
"Udah tidak usa perduli, tuh fokus saja sama langkah mu." Marie segera menunjukan ke Hana kalau ada anak tangga yang harus dinaiki.
"Iya bu maaf"
"Tidak apa-apa Han,santai aja" Mereka langsung menuju ke meja resepsionis.
"Maaf mba..."
"Iya bu, betul ini dengan Ibu Marie ?
Jawab resepsionis itu memotong pembicaraan Marie sambil menunjukan wajah sinisnya. Marie merasa kurang nyaman dan segera melirik ke kartu nama yang mengalung di lehernya. Dinda Ameera namanya, terlihat dari raut wajahnya mungkin usiannya sekitar di 20 tahun nan.
"Betul saya Marie mba, mau ketemu sama bapak Stephen."
"Iya, Silahkan ikut saya, lewat sini bu."
Marie segera melangkah mengekori si resepsionis itu sementara Hana masih mematung di tempanya. Menyadari hal itu Marie kemudian menyuruh Hana untuk mengikuti dirinya.
"Ayo Han buruan !..kenapa malah diam ?"
"Aduh bu saya kurang pede sama pakaian saya, tuh bu, orang-orang pada lihatin saya." Jawab Hana sambil tangannya menunjukan ke orang-orang kantor yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
"Ayo, mau jalan apa bulan ini gaji di tunda." Bisik Marie.
Marie segera menggenggam erat lengan Hana. Mereka kemudian berjalan menuju ruangan yang bertuliskan executif room itu.
Setibanya disana pintunya sudah sedikit terbuka.
"Iya bu silahkan masuk. Bapak CEO Sudah menunggi di dalam." sapa resepsionis itu sambil mempersilahkan mereka untuk segerah masuk. Sementara ia sendiri langsung meninggalkan mereka setelah memastikan mereka sudah berada di dalam.
"Hem Bapak CEO ? Gak beres ni si Stephen." Batin Marie.
Ia kemudian menyapa Stephen yang lagi duduk membelakangi meja kerjanya.
"Selamat Sore Pak Stephen"
"Hi, selamat sore juga Mar." Jawab Stephen sambil berbalik arah dengan memasang senyum tipis, ke arah Marie kemudian mereka berpandangan, Marie tertegun seketika melihat wajah tampan orang yang duduk didepannya. Stephen kemudian melihat dari ujung rambut hingga kaki marie. Menyadari hal itu Marie seketika mundur 1 langkah kemudian menoleh dan berbisik ke telinga Hana.
"Han, mana pesanan kuenya"
"Astaga bu, iya bu segera saya ambil" bisik hana lagi.
"Ayo, saya bantuin" Tawar Marie.
"Gak usa bu. Ibu disini aja, nanti aku minta bantuan sama Pak security. Oya nanti kuenya taro diman bu ?"
"Tanya aja sam mba yang tadi, biasanya taro dimana kalau pesanan kaya gitu."
"Ok bu" Jawab Hana segera meninggalkan ruangan itu.
Sementara Stephen terus memperhatikan tingakah dua wanita yang tengah berbisik itu.
"Maaf Step,,em kuenya masih di mobil." Marie mengeritkan dahinya meminta dimaklumi sama Stephen.
"Ya tidak apa-apa, namanya juga kamu datang menemui aku. Bukan antar pesanan kan ?
"Hem? Bukanlah. Ayo kita langsung ke intinya . Apa yang mau kamu katakan ? uda sore ni." Marie mengelak dugaan Stephen.
"Gak usa buru-buru. Santai saja Mar. Ayo kita makan. Aku belum makan juga. nunggui kamu, lama amat, ngapain aja si di rumah, pasti nonton drakor kan ?" ucap Stephen sambil menghampiri meja yang penuh dengan makanan yang sudah disediakan.
"Tidak usah Step, saya sudah makan dari rumah." Jawab Marie berbohong dan sambil menelan saliva, karena memang dia kelaparan belum sempat makan dari pagi. Tiba-tiba perut Marie berbunyi, Stephen yang mengetahui Marie berbong segera menarik kursi mempersilahkan Marie untuk duduk
"Tap..tapi Step, bagaimana dengan rekan saya tadi."
"Tidak ada tapi-tapian, nanti dia nyusul makannya kalau sudah tiba."
"Tuh kan, kenapa dia selalu ngeselin ya ?" bisik Marie dalam hati.
Mereka kemudian menyantap makan itu dengan lahap sambil mengulang kisah mereka sewaktu masih di sekolah menengah dulu.
"Ting.." Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk dari gawainya Stephen yang tidak dengan sengaja dilihat oleh Marie, dengan nama kontak "My Ex".
"Deg,," Berdebar jantung Marie.
Bersambung...
Komentar