Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 21 "Wanita Itu"

Luka di sekujur tubuh dengan mudah di obati, namun bagaimana dengan luka yang menempah di hati ? akan sangat sulit jika itu bisa. 

Alan membopong tubuh istrinya yang sudah lemas tak berdaya, menelusuri lorong klinik itu. Deraian air mata tak mampu ia tahan. Permainan yang ia mulai, tak disangka akan berujung seperti itu.

Di sepanjang koridor, ada beberapa pasang mata yang menyaksikan pergumulan Alan, tetapi ia tak peduli. Untuk saat ini hanyalah kesembuhan istrinya yang ia perjuangkan. 

Beberapa petugas IGD menyambut kedatangn dan segera mulai mengambil tindakan. Marie kemudian di bawa ke ruangan observasi sedangkan Alan memilih untuk menenangkan diri d ruangan tunggu.

Sesaat kemudian, Marie di nyatakan luka ringan, dan tidak perlu untuk rawat inap. Nasib masih berpihak pada Marie kali ini. Alan kemudian meminta hasil visum dari dokter. Mereka kemudian memilih untuk kembali ke rumah.

***
Seminggu telah berlalu, Desy sudah dijebloskan ke penjara. Kehidupan di rumah Marie berjalan seperti biasa. Namun untuk kali ini, Marie menunjukan sedikit perbedaan. 

Dia semakin diam dan sangat irit untuk berbicara. Jika ada urusan mengenai produksi kue, ia andalkan Hana untuk mengatur semuanya. 

Ruangan kantor adalah tempat ternyaman untuk dirinya. Berbicara dengan suaminya Alan, hanya sekedarnya.

Ia menghabiskan banyak waktu dengan membaca dan mengasah kembali kemampuan bermain musik. Semua itu ia lakukan tentu saja hanya dalam ruangan kantor miliknya.

Disaat kemelut hatinya, gitar dengan iringan country klasik didendangkan dengan lirik lagu 'WHY  ME LORD' menjadi teman termenung. 

'What have I ever done, my soul is in your hand, help me Jesus' (Apa yang pernah kulakukan, jiwaku ada di tanganmu, tolong aku, Yesus). 

Sebuah lirik yang begitu dalam membuat dirinya terbenam dalam alunan petikan gitar yang begitu indah. Seakan melepaskan segalah permasalahan dan membawanya dalam lembah penuh kedamaian. 

Hilang, lenyap seketika, membuat dirinya terlelap diatas kursi kayu jati dengan bantalan busa dan jok Oscar warna putih. 

"Tok...Tok..." Ketukan pintu membuatnya terjaga dari lelapnya tidur.

"Permisi bu, saya Hana" Panggilan dari Hana.

"Iya Han, bentar" Marie menjawab dan segera menuju pintu.

"Krek" gagang pintu di buka. Matanya terbelalak dengan apa yang dilihatnya.

"Maaf ganggu bu, ini ada kiriman makanan" 

Hana menyodorkan sebuah bingkisan kotak bermotif mawar berwarna merah maroon.

"Ini dari siapa Han ?" Marie mengangkat alis dan mengernyitkan dahinya, tetapi belum mau menerima kotakan itu, yang membuat Hana mundur selangkah.

"Kurang tau saya bu, tadi ada kurir yang ngantar. Katanya, nama pengirim ada di dalam kotak ini, tapi saya gak berani buka." 

"Oh gitu" 

"Ya bu"

"Siapa gerangan itu ?" Marie bertanya dalam hati.

"Ya uda, tolong taro diatas meja, Han !" 

Perintah Marie dengan mempersilahkan Hana untuk masuk. 

Hana kemudian meletakan bingkisan itu di atas meja tepat di samping komputer berwarna putih yang bermerk buah Apel digigit setengah. 

Selesai melakukan tugasnya, Hana segerah pamit untuk meninggalkan ruangan yang sangat dingin bak di kutub utara.

Marie mendekati mejanya dan perlahan membuka balutan dari paperbag. Lipatan pita berbentuk sayap kupu-kupu berwarna silver, ia lepaskan secara hati-hati, lalu mengangkat top cover kotakan. 

Nasi goreng spesial ditaburi pete, hati dan ayam suwir, dilengkapin dengan sambal di pojok kanan atas, membuat Merie seketika menelan saliva. 

Sedangkan di sisi kirinya berjejer empat mini cup dari dessert coklat lumer, salad sayur, salad buah dua cup. Terlihat begitu lezat untuk perut yang sudah lapar yang belum terisi dari pagi.

"Selamat menikmati"

Dua buah kata dibubuhi dengan tinta hitam diatas kertas sticky merah muda. Marie mencaritau tetapi tidak ada nama pengirim. Karena sudah merasa lapar, ia tak begitu memperdulikan. 

Suguhan makanan kesukaannya memaksa dirinya untuk menghabisi satu porsi nasi goreng. Sementara menu-menu yang ada di cup, tidak di sentuh sama sekali.

"Han, mau makan puding kah, tolong tanyakan juga teman-temannya ya ?"

Marie mengirim pesan suara menawarkan makan kepada orang yang belakangan ini menaruh rasa pedulih terhadap dirinya.

"Terimakasih bu" balas Hana singkat, lalu segera menuju kantor bosnya.

"Ambil cupnya aja ya, biar kotaknya nanti aku yang buang." 

"Iya, baik bu, makasih lagi bu" 

Setelah itu Hana kembali lagi ke dapur meninggalkan Marie yang masih penasaran dengan siapa yang buat dirinya sudah kenyang di siang hari ini. 

"Apa ini kerjaan Si Stephen ya ?" Marie mencoba menerka-nerka.

Maria kemudian mengambil handphone lalu menggulir sampai nama kontak 'Stephen' muncul. 

Ia baru sadar ternyata selama ini dia sudah mengabaikan banyak pesan serta panggilan dari pria tampan berkulit kuning langsat bermata imut. 

Mulai dari perkara bisnis sampai ke ajakan makan malam dan nonton bioskop. Entah apa maunya si pria bujang lapuk itu. Tidak segan-segan untuk mengganggu Marie yang sudah menjadi istri dari pria yang bukan dirinya. 

"Ah...telpon gak ya...?" 

Marie masih merasa ragu untuk melakukan panggilan. 

"Telpon...gak...telpon...gak...argghhh?? 

Saking gusarnya, Marie mengetok kepala lalu menjambak sendiri rambutnya.

"Husshhhh" 

Marie menarik napas panjang, lalu kembali melalukan panggilan. Kali ini dia sudah benar-benar memberanikan diri hanya untuk mengucapkan kata terimakasih, karena ia yakin, kiriman itu berasal dari Stephen.

"Kring" 

Hanya dengar satu deringan langsung di jawab oleh stephen.

"Hai.. Mar" Sapa Stephen.

"Gesit amat si" batin Marie.

"Hei, Mar ? hallooo ?"  

Stephen mengulang kalimatnya karena tidak ada jawaban dari Marie.

"Oh, hei...emm...hai Step, apa kabar ?

 balas Merie dengan sedikip gelagapan.

"I'm good, and how about you (saya baik-baik saja, bagaiamana dengan kamu) ?" 

"I'm fine too, owh...I just wanna say thank you for your gift, Nasi goreng and..."
(Saya baik juga, saya hanya mau mengatakan terimakasih dengan pemberian mu, nasi goreng dan......"

"Wait...what do you mean ?"
(Entar, Apa yang kamu maksudkan ?) 

Sanggah Alan, karena merasa tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Marie. 

"Ya, Kiriman mu, nasi goreng kesukaan ku" 

Jawab Marie dengan penuh percaya diri.


 "Mar ?" 

"Yap, why ? is something wrong ?"

"Yes of course! aku gak kirim apa-apa Mar, Kamu samasekali gak respon message yang aku kirim jadi, ya gitulah..." 

Terdengar seperti Stephen sedang mengeluh dengan tingkah wanita yang di kagumnya.

"Oh, gitu ? Lah, terus ini ?"

 Marie tidak berani bicara banyak lagi, karena ia merasa sangat malu dengan lelaki yang sedang mengobrol dengannya. 

Seketika bola matanya tertuju dengan secarik kertas sticky yang tadi tertempel dikotakan makanan. 

Ia langsung mematikan telpon, tanpa mengucapkan salam lalu segera memungut lagi benda tipis itu yang sudah jatuh di lantai. 

Dibalik kertas bertuliskan terimakasih itu, ada kalimat lain yang tadi tidak dilihat jeli oleh mata Marie.

"Denanda & Alan" 

"Deg"

 Tiba-tiba jantungnya melanju kencang,
dada Marie seketika bergetir bak di sambar petir di siang hari.

"Apa maksudnya Wanita ini ?" lirih Marie.


Tiba-tiba terdengar suara riuh dari depan rumah, Matanya berpaling ke layar monitor CCTV untuk memastikan. 

Sebuah taxi online dengan full stiker warnah kuning sudah parkir rapih di depan rumah.
 
"Alan ? Perempuan itu ?" 


Bersambung....





 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"