Tetapi saking lemasnya Marie langsung terkulai lemah, bahkan sekedar menjawab pertanyaan suaminya saja ia tak sanggup melakukannya. Ngorok seketika.
Pagi itu seperti biasa, setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan bangun tidur, ia langsung menuju ke dapur, menyiapkan bekal untuk suaminya. Sementara di lain ruangan, Desy yang kemarin tidak sempat turun, terlihat sangat sibuk mengolah adonan.
Marie pun tampak tak begitu menghiraukan.
"Bun, 10 menit lagi saya telat." Alan mengingatkan istrinya yang sepertinya masih sedang sibuk di belakang.
"Iya, sudah beres." Jawab Marie kemudian langsung menyusul suaminya yang sudah menunggu di depan pintu.
Setelah menyalami istrinya, Alan kemudian berangkat kerja dengan terpampang senyum sumringah di wajahnya. Tak ada lagi amarah yang saling melontarkan seperti hari-hari yang lalu. Namun, luka di hati masih tak kunjung sembuh, dan tak mungkin secepatnya.
Sempat terbesit dalam benaknya bahwa Alan, suaminya itu, tidak mungkin ke tempat kerja sepagi ini, tapi ah, sudalah ! ia tak mau mengacaukan hati yang sudah susah payah ia bangun sejak semalam.
Karena moodnya sudah sangat baik ia melanjutkan dengan membaca buku yang sempat tertunda beberapa hari. Biasanya dalam waktu 1 minggu ia menyelesaikan 1 buku non fiksi dan kebanyakn itu adalah buku seputar dunia bisnis.
Entah kenapa, sesuatu yang berbau kewirausahaan adalah 1 dari beberapa hal yang sangat ia gemari.
Belum sempat menyelesaikan membaca 1 bab, ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya Marie tak menanggapi, karena takut menurunkan tingkat konsentrasinya. Namun handphone itu terus berdering.
Marie hendak menyalakan mode silent, tetapi sepertinya nomor itu mengirimkan pesan suara. Karena penasaran, ia kemudian membuka.
"Assalamualaikum emba Marie, ini sama bu surti di gang pemuda, yang kemaren minta nomor."
Setelah mendengar itu ia sempat bingung beberapa detik, Marie baru ingat, ternyata kamarin dia sempat memberikan nomornya ke seorang Ibu, yang tidak sempat juga ia tanyakan namanya.
Karena dikira ada sesuatu dengan suaminya, dengan cepat ia kemudian menghubungi balik ibu itu.
"Kringg"
"Hallo emba " terdengar suara pelan dan sangat berhati-hati dari seberang telpon.
"Halo bu, ini marie bu. maaf ganggu, oya bagaimana bu ?
"Ehmm anu,,emba,,sepertinya mobil putih yang kemarin sudah ada disini lagi emba."
"Terimakasih bu. Saya segera kesana."
"Tapi bentar bu, kemarin lupa aku nanya ibu, gang itukan sempit, mobil tidak bisa masuk, terus lewat mana bu kira-kira ?"
"Oh, itu rumah punya jalur khusus emba, lewat belakang. Hanya mobil mereka yang bisa masuk, selain itu tidak boleh.
"bagaimana bisa bu ?"
"Iya, itu dulu rumah bekas yang punya kost-kosan."
"Ok bu. Saya kesana sekarang, tapi tolong bu jaga rahasia kia !"
"Tenang aja mba."
"Terimaksih bu"
"Sama-sama emba."
Mereka akhirnya menutup telpon. Kemudian Marie langsung menuju dapur.
"Han, tolong packingkan lekker Holland, nastar, dan juga kue kacang ya !masing-masing 2 kotak dan juga dijadikan 2 paket ya." Pinta Marie ke karyawannya.
"Siap bu !" Jawab Hana tegas sambil matanya melirik ke arah Desy yang sibuk mengeluarkan roti manis dari oven.
"Oya , habis itu langsung nyusul saya ke mobil ya."
"Siap bu" jawaban yang sama lagi dari Hana.
Marie lalu mengenakan outfit yang lebih bagus dari sebelumnya, kemudian langsung ke mobilnya.
Beberapa menit kemudian hana pun datang.
"Taro dimana bu" Tanya Hana sambil menunjukan 2 paket kue yang di pegangnya.
"Ya seperti biasa Han, ko kamu nanya lagi si."
"Ok bu, saya nggak ikut bu? Hehe" Canda Hana sambil memasukan paket kue itu di mobil bagian bekakang.
"Lain kali ya Han, saya pergi Han !"
"Ok bu, hati-hati"
"Terimakasih Han"
Marie akhirnya keluar dari garasi dan langsung meluncurkan mobilnya.
Tak lama kemudian sampai disana. Ia memarkirkan mobilnya seperti kemarin, di depan rumah yang tak berpenghuni itu, lalu jalan menuju ke gang masuk, tak lupa juga ia bawakan bingkisan kue yang sudah disediakan.
Ia kemudian menelpon bu Surti.
Selang beberapa detik panggilan itu terjawab.
"Hallo emba Mar " Sapa bu Surti.
"Ya hallo juga bu, saya sudah di depan gang, nanti tolong sama saya ke rumah itu ya, jadi nanti ibu hanya ketok, terus bilang ada tamu tapi jangan bilang kalau tamu itu saya. Bisa bu ?" Tanya Marie mencoba bernegosiasi dengan bu Surti.
"Bisa emba, tapi bagaimana biar emba tidak kelihatan dari dalam."
"Tenang bu. sampai disana baru kita atur"
Marie segera melangkah memasuki lorong kecil itu. Sesampai di depan rumah bu Surti, ternyata bu surti sudah membukakan pintu menunggu kedatangan dirinya.
"Silahkan masuk dulu emba" seru bu Surti
"Iya bu,,Terimakasih !" Jawab Marie sambil memberikan 1 bingkisan kue itu serta ia langsung menempelkan amplop putih itu ke kepalan tangan wanita paruh baya itu. Awalnya bu Surti menolak tetapi karena Marie terus memaksa akhirnya di terima juga amplop itu.
"Bu boleh kita segera kesana bu ?" pinta Marie setengah memohon.
"Oh iya emba, ayo !"
Mereka kemudian menuju rumah yang jaraknya mungkin sekitar 20 meter dari kontrakan bu surti.
Bu Surti kemudian megetok pintu sementara Marie berdiri di sudut yang tidak kelihatan dari dalam.
"Tok,,tok,,tok,,permisi bu Nanda".
Belum ada sahutan dari dalam, kemudian Bu Surti mengetok lagi sampai tiga kali.
"Iya siapa ?" Suara seorang laki-laki yang langkah kakinya berjalan mendekati pintu.
"Saya bu Surti, maaf Pak, ada tamu"
"Iya tunggu bentar" terdengar pria itu memutar gagang pintu, langsung Marie secepat kilat mendekati pintu itu.
"Krek" pintu di buka.
"Maaf Pak ini ada tamu, saya langsung pamit ya Pak." Ibu surti langsung balik ke rumahnya, karena tidak mau terlibat dengan urusan apapun. Sedangkan Marie masih begong dengan yang dilihatnya.
"Maaf, emba siapa ya ? dan mau perlu sama siapa ?" Tanya lelaki asing itu.
"Perkenalkan nama saya Marie " Sambil mengulurkan tangannya tanda perkenalan.
"Saya Istrinya Alan Baskiro. Boleh saya masuk dulu ?"
"Oh iya, boleh bu, silahkan !" sambil mempersilahkan Marie untuk duduk di sofa.
"Ehm,,langsung saja ya mas ya ! boleh saya bicara dengan suami saya ? apa dia disini ?" Marie langsung to the point karena sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Maaf bu, Pak Alan lagi tidak ada !" jawab orang itu dengan sedikit ragu dan sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"Tapi kenapa mobilnya parkir disini ? Mas, saya tau mas orang baik, jangan merusak kebaikan mas dengan melindungi kebusukan Alan, saya bisa buktikan kalau Alan ada disini sekarang." Sambil menunjukan navigasi GPS yang ada di handphone Marie.
"Maaf bu silahkan selesaikan ini dengan Pak Alan, saya permisi bu. Lelaki itu kemudian beranjak pergi.
Marie kemudian mengatur nafas dan membetulkan posisi duduknya agar tetap tenang.
Tidak lama kemudian terlihat Alan keluar dari kamar yang paling ujung, dengan mengenakan pakaian santai, kaos oblong dan celana pendek selutut, tidak seperti pakaian kantor yang ia kenakan dari rumah.
"Bu,,bunda" Alan menyapa dengan suara terbata-bata. Sementara Marie hanya memandangnya dengan senyuman tipis.
"Ayo Yah, kenakan pakaian mu yang tadi dari rumah, tidak enak kalau ada orang yang melihat, kita selesaikan masalah ini di rumah, waktu mu hanya 10 menit untuk ganti pakaian. Pake mobil saya, mobil mu nanti Hana yang ngurusin ."
Alan kemudian kembali lagi ke kamar yang tadi, sementara Marie mengekori dari belakang.
Bersambung..
Komentar