Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Pagi yang indah lazimnya Marie menyambutnya dengan penuh sukacita untuk memulai hari yang baru, kini suram tak dihiasi dengan warna pelangi yang muncul sehabis hujan. Begitulah perasaan yang meliputi Marie. Gelap gulita.

Semenjak kemarin dirinya menangkap basah suaminya lalu meluapkan uneg-uneg dan juga bukti-bukti yang ia kumpulkan selama suaminya menoreh dusta diatas ikatan suci pernikahan mereka. Sedikit legah rasanya. 
Walau suaminya masih dengan pendirian yang kokoh, yaitu tidak berkata yang sesungguhnyan. Namun  ia yakin, seiring berjalannya sang waktu kebenaran akan terungkap, entah itu dari suaminya atau bukan.  

Hal  terbesar yang terus memerangkap jiwanya adalah; kekecewaan. Karena, tertutupnya sekat ketidakjujuran dari sang suami. 

Sebenarnya ia tidak mengapa, jika suaminya memiliki wanita lain selain dirinya.  Asal ada kejujuran dan keterbukaan dari sang suami. 
Dia merasa banyaknya kekurangan yang melekat di dalam dirinya, dan tidak sepenuhnya mampu membahagiakan lelaki, yang kadang menjadi pusat perhatian oleh beberapa kaum hawa ketika sesekali mereka bepergian ke tempat umum. 

Ia menyadari bahwa menurut kitab yang ia imani, lelaki yang memiliki lebih dari satu pasangan adalah hal yang sangat bertentangan dengan etika sosial atau hal semacam itu yang dianut secara turun temurun. Jika itu untuk menyenangkan lelakinya, mengapa harus tidak ?.

Hari itu di penghujung bulan yang penuh kasih sayang, Februari. Marie meliburkan kegiatan produksi, karena ia akan membutuhkan waktu banyak di rumah untuk kembali merajut kasih dengan sang suami yang kebetulan juga mengambil libur kerja.

Pagi-pagi ia sudah menyiapkan sarapan. Kali ini tidak seperti biasanya yang hanya sarapan roti susu dan kacang hijau. Marie menyiapkan makan berat, menu makan di siang hari, dan tentunya makanan kesukaan sang suami. 

Ikan nila bakar sambel penyet, ayam bakar madu, sate kambing, salad buah dan sayur, khusus buat dirinya dan beberapa makanan penutup yang ia pesan lewat layanan makanan online.

Setelah semuanya tertata rapih di meja makan lipat minimalis yang bergaya country klasik itu, ia lantas membangunkan suaminya yang memang susah untuk bangun jika sudah ada hari libur.

"Yah, sarapan yuk ! ada ikan bakar kesukaan ayah."Sambil membisik pelan di telinga sang suami. Menatap lekas wajah polos lelakinya disaat memejamkan matnya.
Alan belum memberi respon apapun.

"Ayah bangun, sarapan sudah ready" 

Kali ini Marie tidak lagi bisik, ia sedikit menggoyangkan kepala suaminya yang masih terlihat menempel di bantal. Masih tertidur pulas.

"Ay,,,"

"Iya bangun aku" 

Alan menghela panggilan Marie kemudian langsung bangun dari ranjang, lalu langsung menuju ke meja makan, sementara Marie mengekori dari belakang.

Mereka benar-benar menikmati sarapan yang sepertinya sangat lezat itu. Alan menghabiskan 2 ekor ikan Nila bakar, sisakan 4 tusuk sate kambing yang semula ada 12 tusuk dan juga ayam bakar madu, ia habiskan 3 potong dan sebagai penutup dengan puding mangga. 

Sementara Maria hanya menikmati salad sayur dengan kombinasi buah apel, anggur, pir, kiwi dan beberqpa buah yang cocok untuk diet dan tidak lupa juga sebagai penutup dengan jus mangga. 

Setelah mengisi perut, dilanjutkan dengan bersantai ria di teras rumah. Kebersamaan seperti itu sudah jarang mereka lakukan, karena masing-masing dari mereka memilih menghabiskan waktu untuk bergelut dengan pekerjaan di bidangnya. 

Saking hangatnya berseda gurau, sejenak, Marie sampai lupa kalau dia sedang berada di tengah masalah yang serius yang jika di guncangkan oleh  sedikit badai maka runtuhlan bahterah rumah tangga yang sudah dibangun selama satu dekade.

"Bun, cantik ya bunga mawarnya, satu pohon tapi beda warna" sambil menunjukan tangannya ke arah bunga favorit milik marie.

"Masa si Yah" Ucap Marie sambil menoleh ke arah suaminya yang duduk di sebelah kiri diatas kursi jati yang usianya sudah tidak lagi muda.

"Iya, biasanya yang ayah lihat, satu pohon hanya ada satu warna, nah yang ini lebih dari tiga " sambil meneguk segelas air yang berada di atas meja bundar yang warnanya sudah hampir pudar itu.

" oh begitu ya " menuduk sambil merapikan ujung daster yang tergulung naik hampir 1 jengkal mendekati lutut.

"Kalau satu pohon keluarga terus diwarnai dengan perselingkuhan, kebohongan da.." 

"Hem sindir teroooosss sampe mampus" Belum menyelesaikan kalimatnya sudah di potong oleh Alan.

"Ayolah bun,, lupakan sudahlah" sambung Alan lagi.

"Iya Ayah" Jawab Marie singkat, lalu hening sejenak, Getiran di dalam dada begitu terasa.

"Kamu yang sekali disindir, sudah mulai tidak nyaman ? apa kabar aku yang dikhianati lalu menutup mulutmu penuh dusta di saat kejujuran dibutuhkan" Marie bergeming dalam hati.

"Bund" lirik Alan sambil mendekatkan kursi ke Marie.

"hemm" 

"ko hemm"

"Lah, emamg jawab apa ?"

"Kenapa diam?" Tanya Alan penasaran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba diam bak di telan bumi.

"Dari pada bicara salah terus" timpal Marie.

"Bukan begitu juga Bun. Maksud ayah, kita kan moodnya sudah baik, ayolah, tidak boleh ungkit-ungkit lagi masa lalu, santai aja bund, nikmati harumnya kembang yang lagi bermekaran,,hahah" Alan mulai menggoda istrinya.

"Oh kampret kamu, kamu kira dengan buatkan kamu sarapan, duduk dengan kamu sekarang, itu karena moodku lagi baik ? pake ngomong masa lalu lagi, seolah bongkar aibnya sendiri, kamu selingkuh itu masa sekarang bukan masa lalu mu, uhhh betapa luar biasa begonya suamiku ini, kamu kira hati yang sudah disakiti dengan mudah disembuhkan pake sulap ? huii dasar " 
lagi-lagi ocehan dalam batinnya, tidak sanggup ia lontarkan keluar dari mulutnya.

Karena menyadari suana yang sudah tidak mendukung lagi untuk diajak kompromi, Alan beranjak pergi ke dalam rumah  meninggalkan  Marie yang masih merasa nyaman dengan diamnya.

Selang beberapa menit Alan keluar dengan penampilan yang berbeda. Kemeja putih lengan pendek dengan logo koboi berpacu kuda, celana pendek selutut, sendal selop dengan tali kulit warna biru, dilengkapi dengan parfum  beraroma lembut citrus segar nan elegan yang benar-benar memanjakan indra penciuman yang tentunya harganya tidak murah tidak juga sampe menguras kantong.

"Bun, Ayah keluar sebentar ya, mau beli sesuatu, bunda mau dibelikan apa ? tanya Alan sambil masuk ke dalam mobil, kali ini mobil yang ia gunakan adalah milik istrinya. 

Marie tak mengindahkan pertanyaan suaminya. Ia malah berdiri kemudian masuk kembali ke dalam rumah.

" Deerr" Terdengar deruan mobil keluar dari garasi. Marie kemudian mengintip dari dalam dengan membukakan  sedikit kain jendela, tak ada banyangan lagi mobil yang dikenadarai suaminya. sudah melaju pergi.

Marie lalu mengambil telponnya hendak menelpon Hana karena ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Hana. Belakangan ini, sepertinya anak buahnya itu tengah mengetahui sesuatu tetapi memilih untuk menyembunyikan rahasia kecil itu.

"Kring, kring,kring"

"Ha,halo bu Assalumalaikum" Terdengar suara gagap dari lawan bicara.

"Iya Han, Waalaikumsalam Han, oya maaf ganggu pagi-pagi Han"

"oh iya, tidak-apa bu"

"Hana, ada waktu luang ?"

"Ada bu"

"Saya boleh ke tempat Hana sekarang"

"Boleh bu, saya tunggu ya bu !"

"Ok, Trimakasih Han"

Marie menutup telpon lalu bergegas untuk pergi ke tempat Hana.

Karena jaraknya tidak begitu jauh, hanya butuh waktu tempuh 15 menit menggunakan  mobil.

Sesampainya disana, Marie mulai mengulas satu per satu, mencoba berdiskusi dengan Hana. Betapa syoknya Marie setelah mendengar informasi dari pengakuan Hana. Serasa sebilah belati tengah mengobrak abrik hatinya.

"Sampai Hati Han kamu sembunyikan ini dari aku " sambil berderai air mata.

"Maaf bu, saya tidak bermaksud seperti itu tapi,,"

Bersambung...

h

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"