Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"

 Setibanya di rumah, Marie langsung memberikan kunci mobil Alan ke Hana supaya segera membawa balik mobil yang masih dirumah tersebut. 

Hana menatap bosnya itu dengan wajah yang penuh dengan tanya, tetapi tanpa dijawab, nalurinya seakan mengerti dengan apa yang di alami perempuan yang kerap disapa ratu pelit itu. Hana sudah tau dengan kejadian dalam biduk rumah tangga bosnya. 

Namun, dalam berinteraksi dengan sesama karyawan lain, ia membuat seolah-olah tidak tau apa-apa. Memilih diam tak berkomentar apa pun, ketika temannya kadang membicarakan perihal drama-drama yang terjadi dalam rumah tangga bos mereka. 

Ternyata, bagi perempuan, menyimpan sebuah rahasia yang sebenarnya mereka semua sudah mengetahui itu merupakan perkara yang tidak mudah, tidak juga sulit. 

Jika mulutmu melaju lebih cepat dari kelambanan pemikiran mu, maka dengan mudah akan mengumbarnya. Namun, jika kamu meluskan wadah hati untuk menjadi tempat berlabuh perkara sesamu, percayalah ! ketentraman jiwa sudah sepenuhnya ada dalam genggaman batinmu. Tetapi apakah semua orang mampu melakukannya ? jawaban hanya ada pada hati orang bijak.

"Han, kesana pake ojek online ya, aku kirimkan alamatnya segera, kalau ada yang macam-macam bilang saja jangan coba cari masalah dengan istri sah Alan." Marie menegaskan kalimat yang  menggunakan istri sah.

"Baik bu, saya segera laksanakan." jawab Hana kemudian berlalu pergi.

"Ayo Yah, kita bicara di dalam kamar" Marie mendekati suaminya yang dari awal tiba, masih duduk membisu di sofa ruangan tamu.

Suaminya belum memberikan respon apapun. Marie kemudia mengalungkan lengannya ke leher suaminya lalu merapatkan mulutnya ke kuping lelaki yang sangat ia cintai itu kemudian membisik.

"Nanti tidak enak di dengar orang luar kalau kita bicara disni." Marie lalu perlahan melepaskan rangkulan itu kemudian pergi mendahului lelaki manja itu. 

Walau amarahnya sedang bergemuruh di dalam dada, ia berusahan sekuat tenaga untuk meredamkan. Terdengar langkah kaki lelaki itu menyusuri. Marie tersenyum kecil, setidaknya lelakinya itu kenyetujui keputusan yang di buatnya. 

Sesampainya di dalam bejana peristirahatan dua insan itu, Marie tidak mau memperbesar masalah, kali ini  ia hanya mau membicarakan dari hati ke hati dan sangat mengharapkan kejujuran dari lelaki tampan bertubuh atletis itu. 

Mereka kemudian duduk di tepi ranjang. Marie mengulurkan tangannya mengusap punggu tangan suaminya, seraya berkata dengan suara nan lembut. 
"Yah, " Sambil memandang lekat wajah suaminya, sementara raut suaminya bak tanpa noda dan celah.

"Saya tidak butuh lebih, yang saya mau adalah kejujuran mu, itu saja ! jadi tolong, berkatalah sejujurnya kepada ku. Aku tidak akan marah kalau kamu berbuat kesalahan apa pun itu, baik disengaja atau pun tidak di sengaja. Aku akan marah besar kalau kamu tidak mengakuinya alias berbohobg." Masih dengan nada suara yang sama, lembut. 

Karena dia tahu suaminya tidak berpaling sepenuhnya dari dia, hanya membutuhkan sedikit sentuhan sensual dari insan yang berbeda. Entah apa penyebapnya yang pasti suaminya berbuat demikian, mumgkin dalam masa transisi ke usia paruh baya.

"Itu hanya teman dekat" 

Alan mulai membuka suara, entah itu jawaban yang benar atau hanya sekedar bersilat lida.

Karena Marie mengetaui Alan tidak berkata yang sesungguhnya, ia memberikan kesempatan kepada Alan. 

Marie menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali dan jika tidak ada satu pun kejujuran dari Alan, maka ia akan mengulas semua bukti-bukti yang selama ini ia kumpulkan.

Namun Alan tetap kekeh, dengan jawaban yang sama, "itu hanya teman dekat, aku tidak selingkuh."

Marie kemudian memandang lagi suaminya, namun Alan menghindari tatapan tajam itu dengan berpaling ke lain arah lalu Marie perlahan melepaskan genggaman dan langsung ke ruangan kantornya dan mengambil beberapa lembaran yang sudah dia arsipkan kemudian kembali lagi ke kamarnya, tempat Alan berada.

Melihat Marie mendekap sesuatu didadanya, Alan mulai melebarkan bola matanya dengan beribu tanya dalam benaknya. Marie kemudian mengunci pintu dan mengantongi anak kunci di saku celananya, kemudian meletakan di atas ranjang, map merah dengan logo gitar mini itu dan duduk di tepih ranjang bersebrangam dengan suaminya.

"Apakah kamu sama sekali tidak berniat untuk jujur ?" Marie menawarkan lagi kesempatan kepada lelaki tampan itu.

"Jika yang kamu mau jawaban aku adalah aku selingkuh, berarti kamu memaksa aku untuk mengatakan hal yang tak semestinya." 

Jawa Alan dengan sorotan matanya berharap agar istri tercinta dapat memahami situasinya kali ini saja, namun istrinya seolah tak peka dengan apa yang ia ucap.

Marie kemudian mendekati berkas yang ada di tengah-tengah mereka kemudian membukanya. Tampak gambar pada lembaran pertama, sebuah testpack dengan duah garis merah yang berada di saku celana Alan dan Marie sengaja momotret dengan ikat pinggang agar lebih menyakinkan Alan.

"Ini hasil dari gotong royong siapa ?" Tanya Marie sambil memperlihatkan gambar benda pipih itu. Sementara Alan masih diam membisu dan nampak begitu gusar mencari pembenaran.

"Belum mau ngaku juga ? apa perlu aku paparkan lebih banyak lagi ?"

Marie membuka lagi lembaran berikutnya, gambar bekas lipstik di kemeja berwarnah biru yang tentunya milik Alan serta selembar celana dalam wanita dengan warnah yang begitu menggoda hasrat dan mengandung unsur keberanian. Merah Maroon.

Alan begitu kaget melihat foto jenis itu.

"Sejak kapan kamu melakukan semua hal keji ini terhadap diriku, Mar ?" Protes alan dengan menaikan sedikit alisnya.

"Sejak tingkah laku mu yang menimbulkan kecurigaan dan perkataan mu yang mematahkan kepercayaanku yang sudah lama aku tegakkan dalam dirimu." Sambil membolak balikan lembaran penuh dengan tanya dan juga  jawaban.

"Salahkan aku sebagai istrimu melakukan hal itu, hem ?" Marie mulai berdiri dan menjauhi Alan.

"Berapa banyak lagi yang kamu sembunyikan dari aku Mar ?" Akan mulai mengeraskan rahangnya, tanganya sudah mengepal sementara urat-urat di wajah serta tangannya tampak menegang tak terkendali.

"Aku tidak menyembunyikan sesuatu dari kamu, aku hanya berusaha untuk mengungkapkan  sesuatu yang kamu rahasiakan dari aku." sambil berjalan kesana kemari seperti di dalam sinetron.

"Oh iya, kamu bertanya berapa banyak ? jika aku berniat mengumpulkannya bahkan memori otakmu saja tidak sanggup untuk menyimpan bukti najis ini."

"Cukup Mar !" Alan mulai meretakan giginya. 

"Cukup ? apakah aku harus diam dengan kebohongan mu ?

"Oh iya ada lagi ni, motor siapa yang kamren kamu bawa dengan gantungan kunci bertuliskan A&D, apakah alan dan Denanda atau bisa juga Desy ? " Terlihat Alan sangat kelagapan mendengar nama itu.

"Plak, plak" tamparan mengenai pipi kiri dan kanan Marie. Stop kamu ya ! jangan memaksa aku supaya bertingkah lebih jauh ?"

"Silahkan, memang tingkah mu sudah jauh dari batas normal makluk yang namanya manusia"

Alan hendak melayangkan lagi tamparan itu namun dengan sirgap marie menepisnya. 

"Sudah berapak kali kalian bercocok tanam ? apakah sangat bergairah seperti pesan yang dia kirim ketika kamu menerima telpon dari Rektor Pak Budy ? Hehe,, semoga anak yang simpanan kamu kandung itu hasil jerih payah mu, bukan titipan benih orang lain." 

Marie segerah meraih map itu kemudian membuka kembali pintu. Sebelum beranjak pergi ia kembali menatap suaminya.
"Apakah perempuan hamil itu bernama Nanda ?

Bersambung...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Chapter 16 "Menangkap Basah"