Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 20 "Kejujuran Alan"

Udara terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang belulang. Hawa dingin yang menandakan tak  lama lagi sang fajar menyingsing, mulai menyinari Bumi. 

Menuntun Waktu terus berlalu, hari juga terus berganti meninggalkan kisah di setiap lembaran memori. Ada kisah yang menyatukan kepingan hati ada pula kisah insan yang bersusah payah menambal dinding hati  yang sudah terlanjur luka, disayat sembilu.

Detakan alarm diatas meja terdengar jelas ditelinga Marie. Ia terjaga, tangannya dengan cepat meraih benda itu. Karena matanya masih samar-samar, belum bisa melihat dengan jelas. 

Tangannya mengucak kedua bola matanya. Lalu mencoba melihat benda itu lagi. Jarum panjang menunjukan angka 9 dan yang pendek menunjukan angka 3. Yap, jam 3.45 dini hari. Waktunya ia untuk bangun. 

Ketika menyadari lelakinya tak berada di satu ranjang dengan dirinya, ia mencoba mencari disetiap sudut ruangan. Tidak ada satu sosok yang ditemui. Kemana perginya pria tampan itu ? apakah ia tidak kembali ke rumah sejak pagi tadi ? terus bagaimana ia sendiri bisa sampai di rumah ?

Beragam pertanyaan itu muncul di benak Marie, namun sepertinya  ia tak sanggup untuk memutar kembali memori dari kejadian yang sudah terjadi. 

Mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi, merupakan salah satu dari sekian kelemahan marie. Terus mencoba merupakan pilihan terbaiknya.

"Argggh" 

Amukan sembari memukul kepalanya. Ia terus mencela dirinya, mengapa hanya mengingat hal sekecil itu saja ia tak sanggup lakukan ?

Sejenak menenangkan diri, lalu mencoba membasuh dirinya, dan melanjutkan dengan  berserah diri ke Sang empunya kehidupan. 

Mungkin dengan cara ini, dia bisa menata kembali memorinya yang sudah terbengkelai. 

"Wait " Marie mereka ulang serangkaian kejadiannya. 

Ia duduk tegak bersilah kaki, kedua tangannya diletakan diatas paha lalu menghubungkan ibu jari dengan jari manis, memposisikan dagunya lurus kedepan kemudian menutup mata. 

Pertama di lakukan adalah membayangkan tempat kejadian di Family Guest House di pagi hari. 

Ia bertemu Desy di ruangan privat room, Desy lebih dulu tiba di tempat, dan meneguk segelas minuman coklat milk, dengan handbag diatas meja. 

Awalnya ia  masuk lebih dulu lalu disusul Desy, Ia mengajukan pertanyaan ke Desy tetapi Desy mengelak dengan menawarkan ia makanan. Emosinya benar-benar memuncak karena merasa di permainkan oleh Wanita penyuka sesama jenis itu, lalu berusahan mencekik leher, tetapi yang ia dapat adalah kerah kemeja. 

Desy merasa sakit, itu terdengar jelas dari desahan, namun tetap menahan. Sorotan matanya yang menjijikan, kemudian dengan sekuat tenaga merebahkan tubuh mungil Marie lalu dengan liar, Desy mengecup bibir bening itu, sesaat birahi bergejolak ditubuh Marie, ia merasakan, setelah itu gelap seketika. 

Marie  melupakan satu hal, ia menghabiskan satu botol jus dan air mineral yang diberikan Desy.

Ia kemudian menghentikan posisi yang mirip pose yoga itu. Kemudian berlari ke kamar mandi melihat pakaian yang ia kenakan sebelum mandi. Pakaian tidur yang jarang ia  pakai, sepasang baju dan celana batik yang tipis. 

Jelas ini bukan dari Alan, lagian hal semacam ini tidak pernah ia lakukan terhadap Marie istrinya. Piyama merupakan balutan teman tidur Marie selain bedcover. 

Ini ulah dari Desy, dia sudah mencampuri sesuatu dari minuman itu.

"Ahh,," Marie merintih kesakitan, terasa perih di daerah selangkangan. Wanita itu kembali ke kamar kemudian mengambil sebuah cermin berukuran 30 x 30 cm kemudian duduk  melebarkan kakinya menghadap ke cermin. 

Terdapat beberapa sayatan ringan membiru di pangakal paha.

" Kurang ajar kamu Desy, kamu telah melecehkan aku !" 

Dengan berderai air mata, Marie meratapi nasibnya. Kenapa orang yang dia anggap sahabat bisa berbuat demikian ?

"Kamu akan menghabiskan sisa umur mu dibalik jeruji besi Desy, hiks,hiks !"

 Tangisan Marie semakin pecah. Penyesalan datang menghampirinya. Jika ia tidak meminta Desy untuk bertemu, maka tidak mungkin bisa terjadi hal seperti ini. 

Dengan sakit yang begitu dalam, ia tak tahu harus mengadu ke siapa. Handhpone yang terletak diatas meja ia raih lalu segerah menelpon Alan. Kali ini suaminya harus mengetahui perbuatan keji dari wanita setengah lelaki itu. Dengan satu sambungan telepon langsung di jawab oleh pemilik handphone.

"Hallo Bun, Ay,,," Suara Alan terhenti ketika mendengar ratapan dari istrinya.

"Hiks,,,Hiks,,," Tak kuasa mendengar suara sang suami yang seharusnya sebagai pelindung, malah keluyuran entah kemana. Marie melepaskan tangisan.

"Bun,,bunda kenapa bun? ada apa bund ? Ayah segera kesana" 

Terdengar suara Alan terbata-bata. Sepertinya ia sedang panik, lalu menutup telephone.

Tak sampai setengah jam, deruan mobil sudah terdengar dari garasi. Alan sudah tiba. Ia kemudian mengetuk pintu, tetapi matanya menyoroti sebuah anak kunci yang diselip di vas bunga tepat di samping pintu.
 
Pikiran Alan sudah mulai kacau, dibenaknya, 
 istrinya sedang keluar dari rumah tapi tidak biasanya menaruh kunci seperti ini. Masing-masing dari mereka memiliki kunci rumah. 

Tak pikir panjang lagi ia kemudian masuk.

"Hiks,,Hiks" terdengar tangisan senduh istrinya dari kamar mereka. Secepat kilat ia menghampiri. Didapatinya istrinya masih dengan posisi yang sama menatap ke cermin.

 Mata Alan terbelalak, jantungnya berderuh kencang, lahar panas terasa menebar dironggah dada menyaksikan tubuh istrinya di penuhi sayatan dan lebam biru yang belum memudar. 

Marie tunduk diam membeku.

Alan lalu mendekap istrinya, kali ini ciuman yang di berikan tepat di ubun-ubun. Hatinya begitu perih, matanya mulai berkaca, satu tetes bening itu jatuh tepat mengenai rambut Marie. Secepatnya ia mengusap, tak mau jika istrinya melihat. 

Meski belum mengetahui apa penyebapnya, tapi kali ini dia benar- benar merasakan apa yang dialami belahan jiwanya. Apa mungkin itu yang dinamakan kontak batin dari satu jiwa dengan dua ragah.

"Bund," 

Kedua tangannya mengangkat kepala istrinya berusaha agar Marie menatapnya.

"Apa yang sudah terjadi ?" 

Dengan suara parauh menahan tangis, Alan menanyakan penyebabnya.

"Desy melukaiku" 

Sambil menangis membayangkan semuanya, ini karena ulah Mereka berdua.

"Apa ? Desy ?" 

Alan tidak menyangka Desy akan terlanjur jauh. Ia mulai geram, berkali-kali ia membunyikan deretan giginya.

Ia juga tahu wanita seperti apa Desy itu. Karena sudah mengetahui maksud dari perkataan istrinya, Alan mencoba menenangkan Istrinya.

"Bun, ayah mau bicara, bolehkah ?" Meminta pertimbangan dari istrinya. 

Marie menganggukan kepala.

"Sebelumnya ayah minta maaf karena sudah menyakitkan hati bunda. Ayah akan siap terima karma yang nantinya akan terjadi. Apa yang bunda curigai itu semuanya adalah fakta, aku menghamili seorang gadis, dan sekarang usia kandungan hampir tiga bulan. Maafkan ayah, " sambil bersujud di hadapan Marie.

"Ayah pastikan wanita itu akan mendapat pelajaran sebelum memakai baju orange."
Alan lalu membopoh istrinya untuk di bawa ke klinik terdekat lalu dirinya segerah mencari keberadaan Desy, si Wanita Misterius.


Bersambung.....



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"