Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 19 "Kebohongan Desy"


" Tapi apa Han ? Marie mencoba menelusuri alasan yang di berikan oleh Hana, wanita yang bersilah kaki duduk di depannya.

"Saya tidak mau melibatkan diri saya terlalu jauh dalam urusan rumah tangga ibu."  Hana menerangkan alasannya.

"Ini bu, silahkan di minum"
Sambil menyuguhkan segelas air bening, karena dia tau bosnya itu tidak suka minuman yang di cemari dengan bahan kimia, dan juga satu piring pisang goreng yang ia goreng untuk sarapan.

"Jadi waktu itu, sebelum mengantarkan pesanan, mereka berduaan di dalam kamar mandi dapur han ? Marie menegaskan lagi pernyataan Hana.

"Dan kamu yang memergoki ?" Marie terus menggali informasi dari anak buahnya itu.

"Iya maaf bu, tapi itu saya tidak secara sengaja " Hana mencoba menjelaskan karena memang dirinya tidak berniat 
 untuk memergoki dua sejoli itu.

"Jadi waktu itu, saya kebelet pipis, langsung lari ke kamar mandi, karena pintunya terbuka sedikit, jadi saya kira tidak ada siapa-siapa. Saya lalu dorong pintu terus serobot masuk, karena memang sudah kebelet banget. Dan, heemss" 

Hana menghela napas panjang, mulutnya seperti terkunci untuk mengatakan kisah selanjutnya.

"Ayo Han, lanjut" 

Marie terus menekan Hana untuk mengatakan yang sesungguhnya.

"Saya kencing si celana bu" tambah Hana.

"Hahaha " Tiba-tiba perut Marie seperti di gelitik. Ia tertawa geli. Merasa lucu saat Perempuan muda berparas manis mengatakan hal itu.

"Tapi ko bisa Han" 

"Ya mau gimana bu, saya sudah kebelet pipis, lalu seketika kaget melihat mereka berdua seperti kuda jantan dan betina dalam film country. Ya, langsung los gitu aja, gak sempat lagi buka celana"

"Haha, kamu lucu juga ya Han"
 Marie masih tertawa lepas, melihat ekspresi dari wajah polos Hana. 

Akhirnya Marie meminta kepada Hana agar merahasiakan percakapan mereka. Hana pun menyanggupinya.

Maria meninggalkan tempat itu dan kembali lagi ke rumahnya. Sesampainya di rumah suaminya sudah menunggu.

"Dari mana kamu ?" Tanya Alan yang sudah menunggu diteras rumah dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat.

Tak ada respon apapun dari mulut Marie, ia terus masuk ke dalam rumah. Alan mengikutinya dari belakang.

"Kalau begini terus sifatmu, jangan salahkan saya kalau saya sudah jenuh tinggal di rumah ini." Sambil menarik tangan Marie untuk mencoba berbicara. 

Masih perempuan itu tak menghiraukannya, ia berjalan masuk ke ruangan kantornya kemudian mengunci pintu, kalau sudah seperti itu, lelaki bertubuh atletis itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. 

Walaupun ia suaminya tetapi pantang bagi dirinya untuk memasuki ruangan itu tanpa seizin Marie. Hal itu ia laukan sebagai bantuk untuk menghormati privasi dari wanita yang kerap di panggil ratu pelit oleh ia sendiri maupun karyawannya.

" Kalau kamu diam terus saya akan pergi dari rumah ini, sekarang juga. Da da istriku tercinta, oya makasih ya, sudah buatkan sarapan, enak banget loh. Haha" 

Langkah kaki Alan yang semula berdiri di depan kantor Marie, kini perlahan terdengar menjauh dari ruangan itu. Sepertinya dia benar-benar sudah pergi. 

Untuk memastikannya ia kemudian keluar dari ruangan yang dingin karena AC itu. Tidak ada mobil lagi di garasi, Alan benar-benar melakukan apa yang ia katakan.

"Dasar bajingan tengik" lirih Marie.

Membanyangkan apa yang diceritakan Hana, membuat amarah di dalam dada mulai bergemuruh. Ia kemudian menghubungi Desy, tetapi sampe 3 kali panggilan, tidak ada respon apapun dari sahabat lamanya itu.

"Apa" 

Tiba-tiba pesan dari kontak yang bertuliskan Desy itu muncul.

"15 menit dari sekarang ketemuan di tempat biasa. Saya berangkat sekarang." 

Tanpa perlu basa basi, Maria langsung mengutarakan maksudnya.

Marie kemudian dengan mobil suaminya langsung meluncur ke tempat biasa, Family guest house. Kurang lebih 15 menit untuk sampe disana. 

Langsung menuju ke privat room miliknya. Guest house dengan total 130 kamar itu adalah kepunyaan dirinya. Itu merupakan properti pertama  yang ia bangun ketika baru mulai menggeluti dunia real estate.Tak ada yang tahu kalau itu miliknya bahkan suaminya maupun Desy. Ia merahasiakanya. Selama ini untuk menghindari kecurigaan dari Desy, ia mengaku kalau privat room itu ia sewa tiap bulan hanya untuk kebutuhan privasi, dan sepertinya Desy pun mempercayainya.

Lift itu berhenti di kamar lantai dua. Marie langsung menuju ke kamar yang paling ujung. Ya, itu privat room miliknya. Ketika ia hendak menggesekan kartu untuk membuka pintu, matanya tertuju ke meja santai yang berada di balik pohon bambu hias.

"Hi" 

Sapaan dari Desy yang duduk santai sambil menikmati segelas minuman coco milk.
Sempat mengagetkan Marie.

"Manusia apa makluk gaib kilat si ? cepat betul sampenya " gumam Marie dalam hati. 

Ia masuk, tak menghiraukan sapaan dari orang yang misterius itu. Desy merupakan sosok wanita berjiwa ksatria di mata Marie, seorang yang tidak mudah di tebak kalau belum mengenal betul dirinya. 

Desy seperti malaikat penyelamat bagi Marie tetapi juga kadang seperti iblis yang mampu meluluhlantakan hati dan perasaan wanita yang sebagai istrinya Alan itu.

"Tok, tok, tok " Boleh saya masuk ? Desy mengetok pintu sambil sedikit menjulurkan kepala ke dalam kamar.

"Masuk ! gak usa banyak bacot kamu" Marie memasang muka judes. Desy kemudian masuk dan menutup kembali pintu. 

Kali ini penampilan tidak feminim, baju kaos putih kemudian di baluti dengan kemeja bermotif kotak-kotak berwarna coklat di padukan dengan bawahan jeans dengan beberapa guratan tepat dipaha, jadi terlihat sedikit maco. Tangannya menenteng sebuah handbag berisikan beberapa makanan kotakan dan minuman. 

Ia kemudian meletakan diatas meja tepat di samping tempat tidur yang sedari tadi sudah di duduki oleh Marie. Istrinya Alan itu terus memperhatikan gerak gerik sahabatnya itu.

"Langsung aja Des. Apa yang sudak kamu lakukan dengan Alan di belakang aku ?"

"sstt, wait ! apa-apaan ini, kenapa main nuduh aja ?" Desy berusahan mendekati dan menenangkan Marie yang sudah mulai meninggikan suaranya.

"Sepertinya kamu butuh asupan nutrisi biar jangan marah-marah terus" Desy berusaha mencairkan suasana dengan menawarkan makanan yang di bawanya.

"Ini, makan dulu nasi goreng spesial kesukaan mu, kamu pasti belum makan siang, lupakan masalah dietmu, kamu terlihat semakin kurus, itu tidak bagus untuk bidadari seperti dirimu." sambil meletakan kotakan ke tangan Marie. 

Sepertinya Desy sudah sangat hafal setiap apa yang di lakukan Marie, wanita yang dulu sempat membuat dia hampir mengakhiri hidupnya.

"Saya datang bukan meminta kamu makanan ya. Jawab pertanyaan saya Desy !" Marie meletakan kembali makanan itu ke meja. 

"Saya tidak bisa jawab sebelum kamu selesaikan makan mu. Titik." 

Jawab Desy lalu terus melanjutkan scroling layar gawainya.

Untuk menuruti perkataan Desy dan kebetulan perutnya juga terasa sudah mulai lapar lagi, Marie lalu mulai melahap makanan kesukaan dia. 

Sesekali Desy melirik ke arahnya, memperhatikan , lalu memberi senyuman. 

Marie menyadari itu tetapi berlagak seakan-akan tidak melihatnya.

"Lapar neng ?  ko lahap betul makannya ?" 

Canda Desy sambil menopangkan kedua tangan ke dagunya dan memperhatikan gerakan mulut wanita yang dulu sempat menjadi belahan jiwanya. 

Sesudah menyelesaikan makannya, tak banyak basa basi Marie langsung mendekati Desy yang duduk ditepi ranjang dengan menyandarkan punggung ke dinding. 

"Jelaskan ke saya Des " hardik Marie

"Ok" sambil meletakan hp di di atas ranjang.

"Yuk, duduk sini" tangannya mempersilahkan duduk. Marie pun menurut. 

Entah kenapa, ketika berhadapan dengan Desy, Marie seolah disihir, setiap kalimat yang diucapkan Desy, seperti itu juga yang di rasakan Marie, dan memacu dirinya untuk menuruti perintahnya.

"Saya tidak selingkuh dengan suamimu ! Kamu tau wanita seperti apa saya, Mar !Mana mau saya selingkuh dengan bajingan pecundang seperti dia "

"Plak" satu tamparan melayang ke pipi Desy. Ia hanya mengusapnya lalu memberikan senyum kecil ke arah Marie.

"Kamu tidak pantas mengatakan hal itu, seburuk apapun dia adalah suamiku" sambil menaarik kerah kemeja Desy.

"Apa yang kamu dan Alan lakukan di kamar mandi dapur ? kamu memang pengk,,," 

Belum selesai bicara Desy sudah menutup mulut marie dengan kepalan tangannya.

"Sstt,,lelaki macam itu tidak pantas disandingkan dengan wanita sebaik kamu Marie Handayani Pratiwi "

Lalu dengan kekuatan setengah lelakinya ia merubuhkan tubuh mungil Marie di atas ranjang. Marie terlentang tak berdaya, ketika ditindih Desy dari atas.

"Kurang ajar kamu Desy" 

Marie berusahan sekuat tenaga menyingkirkan dari pelukan Desy, tetapi ia tak sanggup.

"Mar" Desy menelpelkan bibirnya ke bibir tipis Marie. 

 "Rasa itu belum berubah hingga detik ini" 

Desy berbisik lirih sambil merasakan nikmatan kecupan sepasang bibir itu.

"Aku tidak menjalani hubungan apapun bersama Alan brengsek itu, aku hanya menuruti apa yang dia mau" 

Bersambung...






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"