Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 2 Testpack

Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 saatnya rumah produksi kue tutup. Tetapi Marie terlihat masih sibuk karena ia  langsung turun tangan mengkoordinir untuk pesanan besok, dan mengurus pembukuan. 

Hal ini biasanya dikerjakan oleh Desy, seorang teman lama sekaligus adminnya, tetapi Desy pulang lebih awal hari ini, katanya ada acara keluarga, dan Marie pun mengizinkannya.

 Setelah selesai mengerjakan pesanan, beberapa karyawan langsung menuju parkiran, terlihat ada juga jemputan yang sedari tadi menunggu. 

Setelah melihat parkiran sudah kosong melalui CCTV, Marie langsung menuju rumah produksi yang jarak hanya dibatasi sekat tembok dari dapur. 

Marie ingin memastikan tidak terjadi lagi  kelalaian lagi dari anak buahnya, karena beberapa hari  kamaren sempat ada yang lupa mematikan lampu, kipas, dan juga lupa mematikan kran air yang masih mengalir.

 Memang itu terlihat sepeleh, tetapi bagi usaha bertaraf kecil akan  sangat berdampak pada meningkatnya tagihan listrik.
Memastikan semuanya sudah beres Marie langsung menuju kamar mandi untuk membenahi diri setelah seharian bekerja. 
 
Sebelum mencelupkan tubuh ke bathub, iya membasuh kaki, bagian dada dan kemudian terakhir di kepala. Serangkaian ritual mandi seperti itu dilakukan sejak ia masih gadis. Entah seperti apa penjelasan medisnya tetapi yang pasti menurutnya memberikan rasa nyaman dan untuk memastikan kelancaran peredaran darah ditubuh atau mencegah penyumbatan aliran darah. 

 Marie kemudian menaburkan kembang mawar merah merona memenuhi permukaan bathub yang pastinya sudah berisi air. Aromanya seketika keluar memenuhi ruang kecil berukuran 3x4 itu.

Segera ia merebahkan tubuhnya, air hangat-hangat kuku menjadi alasan ia belum mau keluar dari bathub itu. Body soap dengan aroma red rose seakan menghipnotis dirinya untuk terus memanjakan diri. 

Sempat ia tertidur sebentar tetapi di kagetkan dengan bunyi bell rumah. Dengan segera ia keluar dari bathub. Ketika hendak mengambil handuk, mata Marie tertuju pada sesuatu benda yang ujungnya keluar dari saku celana kotor suaminya yang pagi tadi sehabis mandi, lupa untuk memasukan ke keranjang pakaian kotor. Tidak biasa suaminya seperti itu, tapi ya sudahlah mungkin kali ini dia buru-buru, batin Marie. 

Awalnya Marie tidak menaruh curiga, tetapi benda itu seperti tidak asing baginya. Karena penasaran Marie langsung ambil benda itu dan ternyata itu adalah sebuah testpeck bermerek XY dengan dua garis merah.

Deg, jantung Marie melaju kencang, terasa sesak didada, kepalnya berputar seperti bola yang dimainkan, ruangan kamar mandi yang terang terlihat gelap. Sebentar iya menyandarkan tubuh ke dinding, mengatur pernapasan, dan menyeimbangkan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak.

  Bagaimana mungkin dia tidak syok, dia tidak suka memakai testpack dengan merek itu karena dirasa kurang akurat, dan dia sangat yakin itu bukan miliknya. Marie kemudian menaruh kembali dengan posisi seperti semula dengan tujuan agar tidak membuat suaminya curiga, karena dia berencana terus memantau apa yang disembunyikan suaminya.

"sayang, cepetin buka pintu kenapa lama banget si". Teriak Alan dari teras depan.
Marie kemudian dengan sergap memakai baju dan membukakan pintu.

"hi sayang, how your day ?" sapa Marie

"I'm good, thank you, cup cup cup." Alan membalas sambil mengecup kening Marie.

"but you look so tired"

"no,,no I'm ok" jawab Alan dengan mengalihkan pandang dari istrinya.

"sayang, ini pesanan kamu, sudah saya belikan".Alan sambil menyodorkan kantong putih bertuliskan "Apotek kiara".

"makasih say, semoga kali ini kita berhasil ya," jawab Marie dengan senyuman lebar sambil mengambil kantong itu. dan meletakan di dalam kotak P3K.

"iya semoga aja". balas Alan singkat kemudian langsung menuju ke kamar.

"lah ko malas masuk kamar say, kan kita belum makan. Ayo makan dulu".
Marie kemudian mengikuti suaminya ke kamar  dan menyuruhnya untuk makan malam, karena menu makan malam sudah tersedia diatas meja.

"sebenarnya si aku sudah makan, bareng client dikantor, tapi tidak apa-apa, aku temani kamu aja  syang"

"ok, makasih sayang, tapi kamu mandi dulu"

Marie kemudian menuju ke meja sementara suaminya langsung ke kamar mandi. Tak membutuhkan waktu lama, Alan keluar dengan membawa pakaian kotornya dan menaruh di keranjang pakaian kotor kemudian langsung menuju kamar untuk berpakaian.

Sementara maria mengendap- endap takut ketahuam suaminya, ia kemudian memeriksa pakaian yang ditaro suaminya dikeranjang dan betul testpack yang ada d kantong celana sudah tidak ada lagi, dan lebih  mengejutan lagi, ada celana dalam wanita merah maroon terselip rapih di kantong celana  yang baru  dipakai Alan.
Sementara diujung bawah kemeja ada bercak cairan berwarna putih dan bekas lipstik yang masih tertinggal. 

Sakit hati ? jangan ditanya, sesak, panas banget dada ini, seketika baju daster yang ia kenakan terasa begitu kecil, rasanya iya masuk kamar dan mencekik suaminya. Tetapi hal itu tidak mungkin ia lakukan karena ia tau bagamana bermain cantik. Sebutir air mata tergenang dipelupuk mata itu, ia kemudian menengadah keatas. Jangan sampai air mata ini jatuh, pantang baginya, 

No matter how bad the situation,  I'm beautiful, I'm smart, I'm strong, I'm precious. Marie terus mengucapkan kalimat Itu. Jurus ampuh bagi Marie dalam menghadapi situasi suli, dan itu bekerja baik.

Krek, suara gagang pintu diputar, Marie kemudian secepat kilat melompat menuju meja makan, menarik nafas panjang dan kemudian menenangkan diri, untung saja aksinya tidak diketahui suaminya, jika tidak, gagal rencananya untuk menjadi Sherlock Holmes versi wanita. 

"Loh, kamu kelihatan gelisa gitu say, why ?" tanya alan

"kata siapa ? aku baik-baik aja." jawab marie dengan menapilkan senyum kecut terbaiknya. 

"oh..ok..ayo makan"
Mereka kemudian mencicipi makan malam seafood buatan Marie.
"akhinya kamu suka juga seafoodnya. katanya tadi gak mau makan !"

"iya,,ni, I dont know why ? enak banget si"

kring,,kring,,tlpon masuk dengan nama kontak 'Rktor pk budi 2'

"sayang, sorry banget  aku harus angkat telpon, ini  dari Pak budi rektor di kampus, sepertinya ini penting"

"ok go ahead" Marie terus melanjutkan makannya. Seketika Alan menerima telpon dan menjauh dari marie .

Ting,,ting,,ada notifikasi WhatsApp masuk dari handphone alan yang satunya. Marie kemudian menarik turun layarnya, syok Marie seketika mengetahui isi pesan. Ingin rasanya memuntahkan seluruh makanan yang sudah masuk ke mulutnya, selerah makannya seketika lenyap begitu saja., amarahnya bergemuruh, mengunci erat rahang atas bawah, genggam erat garpu dan sendok ditangannya, ia hendak mendekati alan dan menusuknya, tapi ah,,sudalah ,!!

"berani-beraninya kalian bermain api dibelakang ku"

bersambung...



Komentar

AYT. Wato mengatakan…
Semamgat terus kk

Postingan populer dari blog ini

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"