Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 21 "Wanita Itu"

Luka di sekujur tubuh dengan mudah di obati, namun bagaimana dengan luka yang menempah di hati ? akan sangat sulit jika itu bisa.  Alan membopong tubuh istrinya yang sudah lemas tak berdaya, menelusuri lorong klinik itu. Deraian air mata tak mampu ia tahan. Permainan yang ia mulai, tak disangka akan berujung seperti itu. Di sepanjang koridor, ada beberapa pasang mata yang menyaksikan pergumulan Alan, tetapi ia tak peduli. Untuk saat ini hanyalah kesembuhan istrinya yang ia perjuangkan.  Beberapa petugas IGD menyambut kedatangn dan segera mulai mengambil tindakan. Marie kemudian di bawa ke ruangan observasi sedangkan Alan memilih untuk menenangkan diri d ruangan tunggu. Sesaat kemudian, Marie di nyatakan luka ringan, dan tidak perlu untuk rawat inap. Nasib masih berpihak pada Marie kali ini. Alan kemudian meminta hasil visum dari dokter. Mereka kemudian memilih untuk kembali ke rumah. *** Seminggu telah berlalu, Desy sudah dijebloskan ke penjara. Kehidupan di rumah Marie berjal...

Chapter 20 "Kejujuran Alan"

Udara terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang belulang. Hawa dingin yang menandakan tak  lama lagi sang fajar menyingsing, mulai menyinari Bumi.  Menuntun Waktu terus berlalu, hari juga terus berganti meninggalkan kisah di setiap lembaran memori. Ada kisah yang menyatukan kepingan hati ada pula kisah insan yang bersusah payah menambal dinding hati  yang sudah terlanjur luka, disayat sembilu. Detakan alarm diatas meja terdengar jelas ditelinga Marie. Ia terjaga, tangannya dengan cepat meraih benda itu. Karena matanya masih samar-samar, belum bisa melihat dengan jelas.  Tangannya mengucak kedua bola matanya. Lalu mencoba melihat benda itu lagi. Jarum panjang menunjukan angka 9 dan yang pendek menunjukan angka 3. Yap, jam 3.45 dini hari. Waktunya ia untuk bangun.  Ketika menyadari lelakinya tak berada di satu ranjang dengan dirinya, ia mencoba mencari disetiap sudut ruangan. Tidak ada satu sosok yang ditemui. Kemana perginya pria tampan itu ? apakah ia tida...

Chapter 19 "Kebohongan Desy"

" Tapi apa Han ? Marie mencoba menelusuri alasan yang di berikan oleh Hana, wanita yang bersilah kaki duduk di depannya. "Saya tidak mau melibatkan diri saya terlalu jauh dalam urusan rumah tangga ibu."  Hana menerangkan alasannya. "Ini bu, silahkan di minum" Sambil menyuguhkan segelas air bening, karena dia tau bosnya itu tidak suka minuman yang di cemari dengan bahan kimia, dan juga satu piring pisang goreng yang ia goreng untuk sarapan. "Jadi waktu itu, sebelum mengantarkan pesanan, mereka berduaan di dalam kamar mandi dapur han ? Marie menegaskan lagi pernyataan Hana. "Dan kamu yang memergoki ?" Marie terus menggali informasi dari anak buahnya itu. "Iya maaf bu, tapi itu saya tidak secara sengaja " Hana mencoba menjelaskan karena memang dirinya tidak berniat   untuk memergoki dua sejoli itu. "Jadi waktu itu, saya kebelet pipis, langsung lari ke kamar mandi, karena pintunya terbuka sedikit, jadi saya kira tidak ada siapa-siapa. ...