Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2022

Chapter 22 "Tenang Ditengah Gelombang"

Dari sorotan CCTV, terlihat Alan turun dari pintu depan mobil itu lalu segera membuka pintu tengah. Keluarlah seorang wanita muda berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dengan perut sedikit membuncit. Berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri pintu depan.  Sedangkan Alan masih sibuk menurunkan beberapa koper serta beberapa bawaan lainnya. Marie tidak kaget lagi, itu jelas wanita simpanan Alan. Ia kemudian meraih telephone diatas meja kemudian segera menelpon Hana. "Han, tolong bukakan pintu depan. Kita ada tamu penting" canda garing Marie. "Tamu penting ?"  Batin Hana, ia kebingungan. "Siapa bu ?" Tanya Hana penasaran. "Ya, bukakan dulu pintunya, biar tau Han, hehe"  "iya bu"  Jawab Hana lalu menutup telpon dan langsung menuju ke pintu depan.  "Perasaan dari dulu aku kerja tidak ada tamu-tamunya Ibu" gumam Hana dalam hati, kemudian membukaa pintu. "Hi, kamu emba Hana kan ?"  Tanya wanita itu ketika sudah berpapasan ...

Chapter 18 "Informasi dari Hana"

Gambar
Pagi yang indah lazimnya Marie menyambutnya dengan penuh sukacita untuk memulai hari yang baru, kini suram tak dihiasi dengan warna pelangi yang muncul sehabis hujan. Begitulah perasaan yang meliputi Marie. Gelap gulita. Semenjak kemarin dirinya menangkap basah suaminya lalu meluapkan uneg-uneg dan juga bukti-bukti yang ia kumpulkan selama suaminya menoreh dusta diatas ikatan suci pernikahan mereka. Sedikit legah rasanya.  Walau suaminya masih dengan pendirian yang kokoh, yaitu tidak berkata yang sesungguhnyan. Namun  ia yakin, seiring berjalannya sang waktu kebenaran akan terungkap, entah itu dari suaminya atau bukan.   Hal  terbesar yang terus memerangkap jiwanya adalah; kekecewaan. Karena, tertutupnya sekat ketidakjujuran dari sang suami.  Sebenarnya ia tidak mengapa, jika suaminya memiliki wanita lain selain dirinya.  Asal ada kejujuran dan keterbukaan dari sang suami.  Dia merasa banyaknya kekurangan yang melekat di dalam dir...

Chapter 17 "Mengungkapkan Rahasia"

 Setibanya di rumah, Marie langsung memberikan kunci mobil Alan ke Hana supaya segera membawa balik mobil yang masih dirumah tersebut.  Hana menatap bosnya itu dengan wajah yang penuh dengan tanya, tetapi tanpa dijawab, nalurinya seakan mengerti dengan apa yang di alami perempuan yang kerap disapa ratu pelit itu. Hana sudah tau dengan kejadian dalam biduk rumah tangga bosnya.  Namun, dalam berinteraksi dengan sesama karyawan lain, ia membuat seolah-olah tidak tau apa-apa. Memilih diam tak berkomentar apa pun, ketika temannya kadang membicarakan perihal drama-drama yang terjadi dalam rumah tangga bos mereka.  Ternyata, bagi perempuan, menyimpan sebuah rahasia yang sebenarnya mereka semua sudah mengetahui itu merupakan perkara yang tidak mudah, tidak juga sulit.  Jika mulutmu melaju lebih cepat dari kelambanan pemikiran mu, maka dengan mudah akan mengumbarnya. Namun, jika kamu meluskan wadah hati untuk menjadi tempat berlabuh perkara sesamu, percayalah ! ketentram...

Chapter 16 "Menangkap Basah"

Tetapi saking lemasnya Marie langsung terkulai lemah, bahkan sekedar menjawab pertanyaan suaminya saja ia tak sanggup melakukannya. Ngorok seketika. Pagi itu seperti biasa, setelah menyelesaikan  rangkaian kegiatan bangun tidur, ia langsung menuju ke dapur, menyiapkan bekal untuk suaminya. Sementara di lain ruangan, Desy yang kemarin tidak sempat turun, terlihat sangat sibuk mengolah adonan.  Marie pun tampak tak begitu menghiraukan. "Bun, 10 menit lagi saya telat." Alan mengingatkan istrinya yang sepertinya masih sedang sibuk di belakang. "Iya, sudah beres." Jawab Marie kemudian langsung menyusul suaminya yang sudah menunggu di depan pintu.  Setelah menyalami istrinya, Alan kemudian berangkat kerja dengan terpampang senyum sumringah di wajahnya. Tak ada lagi amarah yang saling melontarkan seperti hari-hari yang lalu. Namun, luka di hati masih tak kunjung sembuh, dan tak mungkin secepatnya.  Sempat terbesit dalam benaknya bahwa Alan, suaminya itu, tidak mungkin ke t...